30/09/2025
Pelakor, Bahagia yang Bukan Milikmu
“Jangan salahkan saya kalau suamimu tidak berkenan denganmu lagi, engkau yang tak pandai menjaga diri.”
Begitu kata seorang pelakor, dengan bangga menyalahkan istri sah.
Ironis. Sebab sering kali, yang paling vokal menuduh justru yang paling lupa bercermin. Pelakor perempuan yang merebut milik orang lain tidak sadar bahwa dialah yang sedang menelanjangi dirinya sendiri. Rendah akhlak, rendah martabat, sebab tak mampu menjaga dirinya dari keinginan kotor yang dibungkus kata cinta.
Perempuan Baik Tak Akan Merebut
Ingat ini baik-baik: perempuan yang baik tidak akan tega merebut kebahagiaan orang lain. Dan lelaki yang benar-benar baik, tak akan tergoda pada rayuan di luar rumahnya.
Cinta sejati tidak tumbuh dari air mata orang lain. Kebahagiaan sejati tidak pernah lahir dari kehancuran rumah tangga seseorang. Kalau memang benar cinta, ia akan lahir dengan cara yang mulia, bukan dengan jalan tikungan yang hina.
Cinta yang Salah, Bahagia yang Palsu
Banyak pelakor membungkus niatnya dengan kalimat manis: “Aku hanya ingin bahagia.”
Tapi mari bertanya:
• Apa benar bahagia itu bisa lahir dari air mata istri sah yang disakiti?
• Apa benar bahagia bisa tumbuh di atas tangis anak-anak yang kehilangan ayahnya?
Kalau kamu s**a suami orang karena tampannya, sadarilah: ketampanan itu sudah dipilih dan diterima istrinya. Jika berhasil kamu rebut, apa yang bisa kamu banggakan? Apakah wajah rupawan yang berpaling karena pengkhianatan akan benar-benar membuatmu bahagia?
Kalau kamu s**a suami orang karena kekayaannya, ingatlah: rezeki itu adalah bagian istri sahnya. Kalau pun kamu berhasil merebut, jangan kaget kalau kekayaan itu perlahan hilang. Karena rezeki yang datang lewat jalan curang tak pernah bertahan. Mana ada rezeki maling yang membawa berkah?
Istri Sah Bukan Tak Bisa Merawat Diri
Banyak pelakor mencibir istri sah: “Dia tidak pandai merawat diri.”
Padahal, kenyataannya bukan begitu. Istri sah sering kali mengalah menyesuaikan dengan kondisi keuangan keluarga. Dia sibuk mengurus anak, mengurus rumah, menjaga agar suaminya tetap tenang dan keluarganya tetap utuh.
Kalau pelakor terlihat “lebih terawat”, itu karena memang tidak ada beban. Tidak ada anak yang harus dijaga, tidak ada dapur yang harus dihidupi. Tugasnya hanya satu: menjual diri. Lalu dengan bangga menyebut itu cinta.
Suami yang Terjebak
Suami yang rela tergoda dengan pelakor pun sama hinanya. Bagai ulat bulu jantan dan ulat bulu betina sama-sama gatal, sama-sama merusak.
Laki-laki sejati tidak butuh pelarian. Laki-laki sejati tahu bagaimana menjaga istrinya, menghargai pengorbanannya, dan melindungi rumah tangganya.
Bahagia Itu Tidak Bisa Dicuri
Bahagia tidak pernah lahir dari hasil curian. Cinta tidak pernah tumbuh dari pengkhianatan. Kalau hari ini pelakor merasa menang karena berhasil merebut, percayalah: itu hanya kemenangan semu. Sebab cinta yang dimulai dengan air mata, akan berakhir dengan air mata juga.
Karena kebahagiaan sejati bukan tentang memiliki banyak, tapi tentang mampu menjaga apa yang sudah dipercayakan. Dan rumah tangga adalah titipan suci bukan mainan yang bisa ditukar-ganti ses**a hati.