12/04/2026
7)"Aaakh...aaaa...tolong, paanaaas!!!" Ketika desahan kenikmatan suamiku dan istri barunya berubah menjadi jeritan kesakitan karena aku melakukan sesuatu yang membuat mereka....
Bab 7
"Aku, Tuan... aku yang melakukannya, Tuan."
Suaraku mengalun lembut namun jernih, membelah kebisingan isak tangis Rena. Aku melangkah keluar dari bpintu kamar dengan gerak tubuh yang tenang dan penuh otoritas. Setiap inci pakaian dan riasan yang kupakai seolah menegaskan bahwa akulah Nyonya rumah yang sebenarnya, wanita rendahan yang bisa diinjak-injak telah mati.
Seketika, suasana di ruang tengah berubah drastis. Mas Cakra terpaku dengan mulut setengah terbuka, sementara Ibu mertuaku melotot seolah matanya hendak keluar dari kelopaknya. Mereka yang terbiasa melihatku kusam dengan kebaya lusuh, kini dipaksa menatap sosok wanita anggun yang memancarkan aura Nyonya yang tak terbantahkan.
Namun, yang paling mengejutkan adalah reaksi Tuan Arsaka. Lelaki beraura penuh kuasa yang tadinya datang dengan ledakan amarah itu mendadak terdiam. Mata tajamnya yang sedingin es kini tak berkedip menatapku. Ada kilat kekaguman yang tertangkap jelas di sana, sebuah ketertarikan instan yang bahkan melumpuhkan niatnya untuk memaki.
Aku tahu aku cantik. Sejak remaja, kecantikanku adalah rahasia umum di kampung ini. Hanya saja, selama bertahun-tahun menikah dengan Cakra, pesona itu terkubur oleh derita, tekanan batin, dan pengkhianatan yang menguras jiwaku. Hari ini, aku sengaja mengembalikannya. Aku memoles wajahku bukan untuk menggoda suamiku lagi, tapi untuk meruntuhkan pertahanan siapa pun yang mencoba menghalangiku.
"Kau memiliki kecantikan yang mampu memikat para priyayi, Cucuku," ucapan nenekku belasan tahun lalu mendadak terngiang. Dulu aku menganggapnya hanya pujian biasa, tapi melihat bagaimana seorang Arsaka yang agung—pria yang bisa memiliki wanita mana pun dengan satu jentikan jari —kini terpesona hingga kehilangan kata-kata, aku sadar bahwa kecantikanku adalah senjata yang memat