Tetandingan Banten Bali

Call Directions Website Contact the business

Tetandingan Banten Bali Tetandingan Banten Bali

Set Couple Bali Tenunan Blanket Full Set Lengkap Saput + Udeng Jadi + Kamen Selendang Motif Etnik Klasik Premium Kain By...
15/10/2026

Set Couple Bali Tenunan Blanket Full Set Lengkap Saput + Udeng Jadi + Kamen Selendang Motif Etnik Klasik Premium Kain By NZtenun.id

Untuk Pemesanan Klik Link dibawah ini:
https://s.shopee.co.id/7fZswgq78q

Couple Sudah Dapat Kamen + Selendang + Saput + Udeng, Set Couple Blanket Cocok Dipakai Sembahyang, Kundangan, Maupun Hadiah

Ada Lebih Hampir 100 Motif Etnik Musantara
Size Couple Blangket

* Udeng Setengah Jadi
Panjang -+ 150 cm
Tinggi -+ 9 cm

* Saput
Lebar ke samping -+ 160
Panjang ke bawah 90 cm

* Kamen
lebar 240cm
panjang kebawah 118 cm

* Selendang
Panjang 240 cm
Lebar 28cm

TIDAK TERMASUK KEMEJA DAN KEBAYA

Pemesanan Hari Minggu Akan Di kirim Hari senin

Memuja Tuhan Melalui Arca (Archanam Sarva Pujanam)Umat Hindu yang melakukan pemujaan melalui berbagai simbol atau niyasa...
15/10/2026

Memuja Tuhan Melalui Arca (Archanam Sarva Pujanam)
Umat Hindu yang melakukan pemujaan melalui berbagai simbol atau niyasa/pratika termasuk melalui Arca-memiliki keyakinan bahwa Tuhan Yang Maha Ada juga bersemayam dalam simbol dihadapannya. Bagi umat Hindu arca bukanlah sekedar objek/sarana tambahan, tetapi merupakan bagian dari mekanisme batin dalam bhakti dan keyakinan.
Tentu saja semua puja yang dilakukan dengan gagasan bahwa arca tersebut hanyalah kayu/logam yang tidak bernyawa; benar-benar konyol dan amat membuang waktu. Tetapi bila hal ini dilakukan dengan penuh keyakinan bahwa arca itu hidup penuh kesadaran dan kekuatan, bahwa Tuhan Yang Maha Segalanya, berada dimana-mana (vyapi vyapaka), meresapi segala yang ada (isvara sarva bhutanam) dan mengejawantah dalam tiap keberadaan baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak (visva virat svarupa), dan dengan keyakinan bahwa Tuhan merupakan kenyataan batin bagi semuanya berada didalamnya, maka pemujaan arca benar-benar bermanfaat dan membangunkan kesadaran Tuhan.



Konsultasi atau pesan banten klik
>> https://wa.me/628976687246

KAMEN COUPLE BALI
https://s.shopee.co.id/20oTn9nBZo

Buku wajib buat yang mau belajar mebanten
https://s.shopee.co.id/9f9k5nJqxN

Buku-buku Agama Hindu
https://s.shopee.co.id/3fwhmSx7kb

Kamen Batik Dan Rayon Bali Lembaran
https://s.shopee.co.id/2B7tzanifK

Bokor Payet Rangrang
https://s.shopee.co.id/LgFofWBmh

SANGGAH PAMERAJANDidalam budaya Hindu khususnya di Bali, salah satu tempat untuk sembahyang disebut Sanggah Pemerajan. S...
14/10/2026

SANGGAH PAMERAJAN
Didalam budaya Hindu khususnya di Bali, salah satu tempat untuk sembahyang disebut Sanggah Pemerajan. Sanggah Pemerajan berasal dari kata Sanggah yang berarti Sanggar (tempat suci), Pemerajan yang berasal dari kata praja (keluarga).Jadi Sanggah Pameraja dapat diartikan sebagai tempat suci bagi suatu keluarga tertentu.
Secara umum kebanyakan orang menyebutnya dengan lebih singkat seperti Sanggah atau Merajan.Akan tetapi yang perlu diingat tidak berarti bahwa Sanggah untuk orang Jaba, sedangkan Merajan untuk Triwangsa. Yang satu ini kekeliruan di masyarakat sejak lama, perlu diluruskan.
Sejarah Sanggah Pemerajan
Dalam sejarah pembangunan Sanggah Pemerajan, terdapat tiga versi. Yaitu sebagai berikut:
1. Sanggah Pemerajan dengan konsep Mpu Kuturan (Trimurti)
Pelinggih yang letaknya di ‘hulu’ (kaja-kangin) adalah pelinggih Kemulan (Rong Tiga, Dua, Satu), tidak mempunyai pelinggih Padmasana/ Padmasari. Kemulan yang dikembangkan oleh Mpu Kuturan sejak abad ke-11 adalah Kemulan Rong 3. Di dalam lontar Tutur Kuturan disebutkan bahwa Kemulan Rong 3 adalah stana Sanghyang Tiga Sakti (Brahma, Wisnu, Siwa) sedangkan di ‘Batur Kemulan’ ruangan di bawah Rong 3 adalah stana roh para leluhur yang sudah disucikan (pitra yadnya)
2. Sanggah Pemerajan dengan konsep Danghyang Nirarta (Tripurusha)
Pelinggih yang letaknya di ‘hulu’ (kaja-kangin) adalah pelinggih Padmasana/ Padmasari, sedangkan pelinggih Kemulan tidak berada di Utama Mandala. Kemulan yang dikembangkan oleh Danghyang Nirata adalah Kemulan Rong 2 sejak abad ke-14. Di mana distanakan Ida Sanghyang Widhi sebagai ‘arde nareswari’ = rua bhineda (lontar Dwijendra Tattwa). Oleh karena itu maka di setiap perumahan agar dibangun tempat suci keluarga, terdiri dari pelinggih-pelinggih: Padmasari (Tripurusha), Kemulan R3 (Trimurti), Taksu (Saraswati), dan di pekarangan ada pelinggih Sedahan Karang (Bhatara Kala). Acuannya Lontar Gong Besi dan Lontar Sundarigama.



Konsultasi atau pesan banten klik
>> https://wa.me/628976687246

KAMEN COUPLE BALI
https://s.shopee.co.id/20oTn9nBZo

Buku wajib buat yang mau belajar mebanten
https://s.shopee.co.id/9f9k5nJqxN

Buku-buku Agama Hindu
https://s.shopee.co.id/3fwhmSx7kb

Kamen Batik Dan Rayon Bali Lembaran
https://s.shopee.co.id/2B7tzanifK

Bokor Payet Rangrang
https://s.shopee.co.id/LgFofWBmh

Macam-Macam Jenis Air Suci Tirta Dalam Upacara Yajna Agama HinduDilihat dari cara memperolehnya, tirta dapat dibedakan m...
13/10/2026

Macam-Macam Jenis Air Suci Tirta Dalam Upacara Yajna Agama Hindu
Dilihat dari cara memperolehnya, tirta dapat dibedakan menjadi dua macam. Ada pun kedua macam tirta tersebut adalah sebagai berikut:
Tirta atau air suci yang dibuat sendiri oleh Pandita atau Sulinggih
Tirta atau air suci yang diperoleh melalui memohon oleh pemangku/ dalang/ balian atau Sang Yajmana
Jika kita perhatikan dalam kaitanya dengan Panca Yajna, maka jenis-jenis tirta dapat dibedakan menjadi enam macam yaitu:
Tirta pembersihan yaitu air suci yang digunakan untuk mensucikan atau membersikan sarana (bebanten) upakara dan diri manusia sebelum melakukan persembahyangan. Pada umumnya di pura-pura tirtah pembersihan diletakkan di depan pintu masuk atau di dekat tempat d**a dan sentang.
Tirta pengelukatan yaitu air suci yang fungsinya digunakan pada penglukatan atau pensucian alat upacara, bangunan atau diri manusia. Selain itu tirtha ini, biasanya dipergunakan untuk mensucikan canang dan banten dengan cara percikan tiga kali. Tirta ini pada umumnya di dapat dari para pandita dan telah di pasupati.
Tirta Wangsuhpada juga disebut dengan banyun cokor atau kekuluh yaitu jenis tirta yang digunakan pada akhir persembahyangan. Tirta ini sebagai simbol sembah dan bhakti kita kepada Tuhan agar diberikan anugra berupa air suci kebahagian.
Tirta Pemanah yaitu yaitu jenis tirta yang digunakan pada saat memandikan jenazah. Tirta ini diperoleh dari air suci pada saat upakara Ngening.
Tirta Penembak yaitu jenis tirta air suci yang digunakan saat memandikan jenazah yang maknanya mensucikan badan jenazah secara lahir dan batin.
Tirta Pengentas yaitu tirta yang fungsinya untuk memutuskan hubungan roh orang yang meninggal dengan badannya agar cepat melupakan keduniawian. Tirta ini merupakan penentu utama berhasilnya suatu upacara ngaben. Tirta Pengentas pada umumnya dibuat oleh sulinggih.
Kalau dilihat dari penggunaannya pada persembahyangan agama Hindu sehari-hari, tirta dapat dibedakan menjadi tiga jenis diantanya:
Tirtha Kundalini yaitu tirta yang dipercikan ke badan sebanyak tiga kali ketika persembahyangan.
Tirtha Kamandalu yaitu tirta yang diminum.
Tirtha Pawitra Jati yaitu tirta yang diraup ke muka atau kepala sebanyak tiga kali.
Kemudian dalam pustaka Purwa Bhumi, ada disebutkan lima jenis Tirtha yang terdapat di lima gunung atau Panca Giri, sebagai berikut:
Tirtha Sveta Kamandalu di Gunung Indrakila, dijaga oleh Indra dan Sang Hyang Iswara atau Sadyijata
Tirtha Ganga Hutasena di Gunung Gandharnadana, dijaga oleh Barna Dewa
Tirtha Ganga Sudha-Mala di Gunung di Gunung Pgat atau Udaya, dijaga oleh Tatpurusa
Tirtha Ganga Amrta-Sanjivani di Gunung Rsymukka di jaga oleh Aghora
Tirtha Ganga Amrta-Jiva di Gunung Kailasa dijaga bersama Ardhanareswari.
Panca Tirtha tirta diatas dapat diperoleh di lereng Panca Giri. Ada pun fungsinya adalah digunakan untuk menyucikan Bhuta dan Kala, terutama pada hari Raya Nyepi, dan juga dilakukan menjelang upacara-upacara penting lainya dalam rangkaian pelaksanaan Yajna umat Hindu.
Reff: https://www.mutiarahindu.com/.../macam-macam-jenis-air...



Konsultasi atau pesan banten klik
>> https://wa.me/628976687246

KAMEN COUPLE BALI
https://s.shopee.co.id/20oTn9nBZo

Buku wajib buat yang mau belajar mebanten
https://s.shopee.co.id/9f9k5nJqxN

Buku-buku Agama Hindu
https://s.shopee.co.id/3fwhmSx7kb

Kamen Batik Dan Rayon Bali Lembaran
https://s.shopee.co.id/2B7tzanifK

Bokor Payet Rangrang
https://s.shopee.co.id/LgFofWBmh

Mahakali : Menyeramkan Namun Penuh KasihDewi yang paling ditakuti adalah Mahakali, yang merupakan perwujudan kemarahan D...
12/10/2026

Mahakali : Menyeramkan Namun Penuh Kasih
Dewi yang paling ditakuti adalah Mahakali, yang merupakan perwujudan kemarahan Dewi Parvati atau Dewi Uma. Kali merupakan shakti Dewa Shiwa yang diyakini sebagai penghuni tempat kremasi atau setra.
Dewi Kali adalah penguasa waktu, berasal dari bahasa sansekerta Kaal yang berarti waktu. Kehadiran Dewi Kali tidak bisa dihindari karena merupakan bagian dari perjalanan waktu.
Kali digambarkan sebagai sosok dewi yang menggunakan kalung tengkorak manusia dengan aksesorisnya, sementara senjatanya adalah tri sula dengan menghunus pedang untuk siap menebas segala kejahatan dunia.
Mahakali dalam sastra Hindu diwujudkan sebagai kemarahan Dewi Parvati. Munculnya kekuatan Kali yang setara dengan Dewa Siwa tidak ada yang bisa mengalahkan. Mahakali dengan kemarahannya menumpas kejahatan para asura atau kaum raksasa.
Disisi lain, Mahakali dengan wujud bengis menyeramkan merupakan sosok yang mahakasih. Memuja Mahakali diharapkan manusia mampu menumpas segala macam kejahatan dalam diri.
Mahakali penganugerah keselamatan bagi pemuja-Nya. Wujud Mahakali dikisahkan kembali dari kemarahannya ketika Dewa Siwa yang tiada lain adalah suaminya berserah diri dengan penuh pengorbanan untuk diinjak oleh Mahakali.
Setelah tahu bahwa yang diijak adalah suaminya, Mahakali menjadi sangat bersedih dan merasa bersalah sehingga kembali berwujud Parvati. Pengorbanan Dewa Siwa sebagai simbol pengorbanan kasih mengembalikan kemarahan menjadi kasih dan juga simbol pengorbanan suami melayani istri. (SB-Skb)



Konsultasi atau pesan banten klik
>> https://wa.me/628976687246

KAMEN COUPLE BALI
https://s.shopee.co.id/20oTn9nBZo

Buku wajib buat yang mau belajar mebanten
https://s.shopee.co.id/9f9k5nJqxN

Buku-buku Agama Hindu
https://s.shopee.co.id/3fwhmSx7kb

Kamen Batik Dan Rayon Bali Lembaran
https://s.shopee.co.id/2B7tzanifK

Bokor Payet Rangrang
https://s.shopee.co.id/LgFofWBmh

Makna Hari Raya Soma RibekSoma Ribek adalah hari pemujaan Sri Amerta (manifestasi Hyang Widhi Wasa yang memberikan kemak...
11/10/2026

Makna Hari Raya Soma Ribek
Soma Ribek adalah hari pemujaan Sri Amerta (manifestasi Hyang Widhi Wasa yang memberikan kemakmuran berupa bahan makanan, seperti beras dan lainnya. Awam biasa menyebut Soma Ribek sebagai hari piodalan (peringatan kelahiran) beras sebagai sumber pangan utama.
Maka dari itu, saat Soma Ribek, umat Hindu Bali akan menghaturkan sesaji di tempat-tempat yang memiliki kaitan erat dengan beras, seperti lumbung atau jineng (tempat penyimpanan padi) serta pulu (tempat penyimpanan beras). Sesaji yang dihaturkan lazimnya berupa banten khusus yang berisi nyanyah geti-geti, gringsing, raka-raka (buah-buahan), pisang emas, dan bunga-bunga harum. Dalam masyarakat Hindu Bali, seperti lazimnya masyarakat di Nusantara, padi atau beras memang memiliki makna khusus. Buktinya, banyak daerah di Nusantara memiliki cerita rakyat tentang asal mula padi atau beras. Masyarakat Nusantara melihat padi atau beras sebagai simbol kemakmuran.



Konsultasi atau pesan banten klik
>> https://wa.me/628976687246

KAMEN COUPLE BALI
https://s.shopee.co.id/20oTn9nBZo

Buku wajib buat yang mau belajar mebanten
https://s.shopee.co.id/9f9k5nJqxN

Buku-buku Agama Hindu
https://s.shopee.co.id/3fwhmSx7kb

Kamen Batik Dan Rayon Bali Lembaran
https://s.shopee.co.id/2B7tzanifK

Bokor Payet Rangrang
https://s.shopee.co.id/LgFofWBmh

SUNGKEM / PADASEWANAMhilangkan Nasib Buruk dengan Sungkem Padasewanamsiapa yang tidak mengenal arti sungkem?nakula sahad...
10/10/2026

SUNGKEM / PADASEWANAM
hilangkan Nasib Buruk dengan Sungkem Padasewanam
siapa yang tidak mengenal arti sungkem?
nakula sahadewa melakukan Padasewanamsudah tentu, ritual ini banyak bisa kita lihat belakangan ini, baik pejabat maupun para artist, bila akan melaksanakan sebuah acara penting, maka "Ritual Sungkem pada orang tua" tidak akan dilewatkan.
Bagi saudara kita suku Jawa, tradisi sungkeman kepada orang tua ketika mantenan atau hari raya (seperti Lebaran) merupakan pemandangan yang sudah biasa. Tradisi ini dipahami sebagai pernyataan terima kasih, permohonan maaf, sekaligus pemberkatan kepada sanak keluarga (anak-anak) dari orang tuanya. Para menganut tradisi sungkeman meyakinkan bahwa sujud di kaki orang tua merupakan anugerah luar biasa bagi sebuah kesuksesan. Namun hal ini menjadi luar biasa (bahkan dipandang maboya = aneh) ketika tradisi ini dilakukan oleh orang Hindu (Bali).
mungkin dalam benak semeton bali ada yang bertanya-tanya dalam hati,
bukankah, sungkeman itu ritual adat jawa?
atau, sungkeman dan cium tangan orang yang lebih tua merupakan ritual agama non-hindu..?
sepintas bila di lihat di media masa, TV dan media lainnya, memang kebanyakan orang yang melakukan sungkem adalah orang non-hindu. tapi perlu diketahui bahwa, ritual sungkem merupakan ritual asli agama hindu.
kok bisa...??
mari kita telusuri dasar pelaksanaan sungkem.
dalam Agama Hindu, istilah "SUNGKEM lebih dekat dengan kata PADASEWANAM atau istilah balinya NYUMBAH".
Sungkem adalah Ajaran Agama HinduHindu mengenal cara mendekatkan diri kepada tuhan ada 4 cara, yang disebut dengan Catur marga Yoga. dari 4 cara tersebut, SUNGKEM pada orang tua merupakan bagian dari Bhakti Marga. ini dibuktikan pada sloka Bhagavata Purana yang menyebutkan kata Nava Vida Bhakti diantaranya:
Sravanam, kirtanam, visnohsmaranam, Padasevanam, vandanam, arcanam, dasyam,Sakhyam, atmanivedanam. Bhagavata Purana (VII, 5.23)
Yang artinya :
Mendengarkan prihal kemuliaan Tuhan, menyanyikan namaNya, mengingat dan merenungkan kemuliaan Tuhan, memuja kaki Tuhan, membaca kitab suci, menghormati Tuhan melalui media Arca, mengabdi kepada Tuhan, mencapai kedekatan dengan Tuhan, pasrah diri kepada Tuhan.
nah.. dari 9 ritual diatas, salah satunya disebutkan kata "Padasevanam" yang artinya sejatinya memuja kaki Tuhan.
maksud Padasevanam atau sungkem ini adalah perwujudan bhakti kepada Tuhan denganmenyembah kaki padma Tuhan. Kaki padma diartikan sebagai kaki yang maha suci milik Tuhan.
pertanyaan berikutnya adalah:
Padesawanam adalah yang dipuja adalah kaki padma Tuhan, tapi sungkem itu membungkuk atau menentuh kaki orang tua, apa hubungannya?
kenapa orang tua dikatakan Kaki Tuhan?
mari kita mengingat kembali, sinar suci tuhan didunia kita sebut sebagai DEWA. dan siapakah para dewa di dunia itu...? apakah hanya para malaikat saja...? mari kita simak sloka berikut ini:
matrdevo bhava pitrdevobhava, acaryadevo bhava atithidevo bhava. (Taittiriya Upanisad 1.11)
yang artinya:
seorang ibu adalah dewa, seorang bapak adalah dewa, seorang guru adalah juga dewa dan para tamu pun adalah dewa.
coba perhatikan, Ibu, Bapak dan Guru... itu semua adalah Dewa, yang merupakan sinar suci tuhan. jadi bila kita membungkukan badan kepada mereka,menghormati mereka, itu sama artinya kita melakukan Padasewanam kepada Tuhan.
sehingga jelas sudah, bahwa:
sungkem wajib dilakukan pada orang tua atau yang lebih tuasungkem juga wajib dilaksanakan kepada seorang Guru
Kitab Purana dalam hal ini Ganesha Puranapernah mengisahkan tentang manfaat dari mengelilingi orang tua yang merupakan wakil Tuhan di bumi. Alam semesta hanyalah sebagian kecil dari kemahakuasaan Tuhan, oleh karena itulah dengan menyadari prinsip ketuhanan dalam diri orang tua maka secara tidak langsung kita juga akan disinergikan dengan alam dan lingkungan sehingga menunjang tercapainya keharmonisan hidup antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan juga hubungan manusia dengan alam lingkungan sebagaimana yang diinginkan dalam ajaran Tri Hita Karana.
Di India sendiri sebagai cikal bakal budaya Hinduisme, tradisi membasuh kaki kedua orang tua semasih hidupnya adalah sesuatu yang boleh dikatakan wajib bagi anak-anak sebab bagaimanapun, dalam kegiatannya sehari-hari sudah barang tentu seorang anak pasti pernah saja melakukan kesalahan baik dalam perbuatan maupun kata-kata kepada orang tua mereka baik itu secara tidak sengaja maupun karena lepas control demikian halnya orang tua walaupun dipenuhi dengan kasih dalam membesarkan anaknya tapi kemungkinan mereka pernah lalai dalam menjalankan tugasnya sebagai orang tua adalah juga merupakan hal yang pasti.
Oleh karena itulah maka tradisi bersujud kepada orang tua sebagai tanda penghormatan dan penghargaan atas semua hal baik yang pernah mereka lakukan demi untuk membesarkan sang anak harus terus dipelihara dan dipertahankan. Terlebih dalam menghadapi arus jaman yang semakin keras oleh pengaruh Kali Yuga dimana banyak kita temukan ketidak harmonisan antara anak dan orang tua dan khususnya lagi antara mertua dan menantu padahal dalam kitab suci semua agama telah tercantum dengan jelas tentang bagaimana pentingnya membina keharmonisan hidup dalam rumah tangga bagi kedamaian jagat raya. Sebab jika di masing-masing rumah tangga sebagai lingkup terkecil dari sebuah komunitas, orang-orangnya bisa hidup tentram dan saling menghormati, maka tentu ketentraman dan kedamaian akan tercipta dalam lingkup yang lebih besar lagi yakni kedamaian dalam satu desa. Selanjutnya jika masing-masing orang yang bertempat tinggal dalam sebuah desa bisa menciptakan kerukunan dan keharmonisan antar desa lainnya, maka tentulah hal ini akan berdampak pada terciptanya rasa damai dalam sebuah daerah, dan demikian seterusnya. Oleh karena itulah maka langkah awal yang bisa kita ambil untuk merealisasikan kata Shanti atau Damai sebagaimana tercantum dalam setiap mantram akhir dalam doa-doa hindu adalah dengan memulainya dari diri sendiri dengan membangkitkan kedamaian itu melalui pengembangan kasih sayang yang sudah laten ada dalam setiap Individu. Misalnya dengan melakukan perenungan sekaligus penyadaran atas kasih sayang orang tua yang telah diterima sejak masih dalam kandungan sampai anak yang bersangkutan besar dan mencapai kesuksesan yang dicita-citakan.
Bagaimana seorang Mertua bisa memperlakukan dan menganggap menantu sebagai anaknya sendiri dan juga sebaliknya bagaimana seorang Menantu mau dan mampu menyayangi mertuanya sebagaimana ia mengasihi kedua orang tua kandungnya.
Epos besar Mahabharata adalah salah satu karya besar Rsi Agung Vyasa yang tetap bisa dijadikan contoh untuk menjalani kehid**an dalam era kekinian.
Sebagaimana kita tahu dalam sejarah agung itu bagaimana sosok Dewi Kunti yang walaupun telah ditinggal mati oleh suaminya, namun ia tetap memegang prinsip keibuannya dalam mengasuh dan membesarkan kelima orang putranya (3 anak kandung yakni Yudistira, Bhima, dan Arjuna ditambah dengan 2 saudara kembar yang merupakan anak dari Dewi Madri yakni Nakula dan Sahadewa). Kasih sayang yang diberikan oleh Kunti sama rata antara yang diberikan kepada anak kandungnya sendiri maupun anak dari madunya (Dewi Madri). Begitu p**a tentang kesabaran dan kesungguhan Kunti Dewi dalam merawat, menjaga dan melindungi putra-putranya. Ia penuhi hari-harinya dengan kasih sayang seorang ibu yang bahkan merelakan dirinya ikut menanggung susah dan penderitaan demi agar bisa menemani buah hatinya saat menjalani pembuangan di hutan selama 12 tahun. Pun hal indah yang telah diteladankan bagi kita semua ketika ia dibawakan menantu oleh kelima putranya, Kunti menyelesaikan permasalahan itu dengan sangat baik dan bijaksana dengan kasih sayang keibuannya.
Begitulah pesan moral yang sangat luhur yang telah diperlihatkan kepada kita semua agar bisa dijadikan suluh atau cerminan dalam berprilaku di jaman Kali. Bahkan sebagaimana kita tahu bahwa
"dalam Tradisi Veda, menyentuh kaki orang tua atau orang yang lebih tua dan disucikan ketika mereka bertemu adalah sesuatu yang lumrah untuk dilakukan".
Sehingga tidak mengherankan bahwasannya sastra menegaskan bahwa beberapa prasyarat untuk bisa mendapatkan kesucian bagi seseorang atau suatu tempat, salah satunya adalah ketika ia mendapatkan kesempatan untuk menghormati kaki orang tua, ataupun membasuh kaki brahmana (Guru) dan memercikkan bekas air basuhan kaki (wangsuh pada) orang suci itu. Tentu hal ini akan menjadi hal yang sangat baik jika kemudian dilanjutkan dengan rutinitas membaca kitab-kitab suci agama, menyanyikan kidung-kidung suci ketuhanan melalui bhajan atau kirtan, serta melakukan upacara yang sarat mantram-mantram suci..
Padasewanam kepada Guru Nabecontoh yang lebih dekat dalam pelaksanaan ritual Sungkem/Padasewanam kepada guru adalah pada saat Rsi Yadnya madwijati, saat RitualNapak sisya oleh Guru nabe. disana sangat kental terlihat prosesi sungkem atau padasewanam-nya.
harusnya tradisi sungkeman adalah hal biasa dilakukan, terutama ketika menjelang dan setelah selesai sembahyang, pada saat perayaan hari kelahiran (otonan/ulang tahun), pada saat upacara perkawinan, metatah (potong gigi), dan upacara lainnya. Bahkan pada saat upacara nasional memperingati Hari Ibu (22 Desember), tradisi sujud di kaki ibu (orang tua).
Mari kita luruskan pandangan yang keliru. Terutama bagi mereka yang memandang ''aneh'' tradisi sungkeman di kalangan umat Hindu. seperti halnya yang diperintahkan dalam Rgveda:
jyotismatah patho raksa dhiya krtan(Rgveda 10.53.6)
''Semoga engkau melindungi tradisi-tradisi mulia yang didirikan (dilembagakan) oleh para leluhur''
Sungkem Padasewanam hilangkan Nasib Sialmungkin semeton hindu akan berpikir, umumnya, ritual sungkeman untuk menghilangkan Nasib buruk dilakukan kepada ibu kandung.
padesewanam bisa dilakukan di dapur, karena dapur merupakan wujud feminimisme (keibuan), kemudian dapur juga merupakan tempat berkumpulnya 5 unsur alam, diantaranya: tanah pertiwi), tempat air(apah), tempat api (teja), angin (bayu) dan ruang memasak (akasa). karena dapur merupakan tempat bertemunya 5 unsur dasar alam serta tempat yang bersifat feminim, maka dapur harus bersh, terang serta ada kegiatan memasak terutama ada kegiatan di rirun (tempat tunggu dapur dengan 3 ruang dengan 1 lubang cangkemnya.
etika sungkem atau padesewanam sejak dini, dengan mencium tangan orang tua terutama IBU saat akan melakukan kegiatan, baik memulai belajar/sekolah ataupun akan berangkat bekerja.
Tatacara Upacara Padasewanam/Sungkeman:
secara umum, ritualnya:
orang tua duduk, kemudian anak mencuci kaki orang tuanya dan mencium kaki dibagian bawah lutut orang tuanya.
secara terperinci, berikut ini ritualnya:
1. Anak mencuci kedua kaki orang tua dengan air kembang yang telah disiapkan, kemudian di lap kering.
2. Anak Mencakupkan Tangan di depan dada (sikap panganjali) dan mengucapkan mantra Guru Puja:
Om Guru Brahma Guru Wisnu,Guru Dewa Maheswara,
Guru Shaksat Param Brahma,Tasmei Shri Guruwe Namaha.
3. Anak melakukan Sungkeman/Padasewanam, dengan mencium ke dua kaki orang tua penuh kasih….sambil mengucapkan Mantra:
Om Namame Smaranam,
Om Padame Sharanam.
Diikuti dengan lantunan Mantram:
Om Twam Ewa Mata Ca Pita Twam Ewa
Twam Ewa Bandhus Ca Sakha Twam Ewa
Twam Ewa Widyam Drawinam Twam Ewa
Twam Ewa Sarwam Mama Dewa Dewa
4. Lalu ke dua orang tua memegang ke dua pundak si anak, seraya mengucapkan mantram:
Om Sarwesam Swasti Bhawantu
Om Sarwesam Santih Bhawantu
Om Sarwesam Sukham Bhawantu
Om Sarwesam Suputram Bhawantu
Om Sarwesam Sadhunam Bhawantu
Om Sarwesam Gunawan Bhawantu
Om Sarwesam Purnam Bhawantu
Lalu diberi pesan-pesan harapan dan doa (dengan bahasa sehari-hari)
Seusai sungkeman/padasewanam, sebaiknya dilanjutkan dengan dharma wacana/dharma tula.
Sesungguhnya budaya Sungkem adalah budaya Hindu. Sayang kita di Bali sangat jarang mengagendakan budaya sungkem setiap hari raya apalagi setiap harinya, tidak seperti saudara – saudara kita yang bersuku Jawa yang non-Hindu sangat disiplin dengan tradisi ini.
Marilah kita menciptakan keluarga – keluarga yang bangga dengan indetitas Hindu, tradisi budaya Hindu Bali.
Demikian sekilas tentang Sungkeman/Padasewanam dapat saya sampaikan, yang harusnya setiap Orang Hindu WAJIB ketahui hal ini dan menjalankannya. semoga bermanfaat.
Semoga fikiran baik datang dari segala penjuru (Ayurveda XXV.4)



Konsultasi atau pesan banten klik
>> https://wa.me/628976687246

KAMEN COUPLE BALI
https://s.shopee.co.id/20oTn9nBZo

Buku wajib buat yang mau belajar mebanten
https://s.shopee.co.id/9f9k5nJqxN

Buku-buku Agama Hindu
https://s.shopee.co.id/3fwhmSx7kb

Kamen Batik Dan Rayon Bali Lembaran
https://s.shopee.co.id/2B7tzanifK

Bokor Payet Rangrang
https://s.shopee.co.id/LgFofWBmh

Sistem Ulu Apad adalah pembagian tugas adat yang terdiri dari 6 tingkatan yang terbagi menjadi dua sisi yaitu sisi kanan...
09/10/2026

Sistem Ulu Apad adalah pembagian tugas adat yang terdiri dari 6 tingkatan yang terbagi menjadi dua sisi yaitu sisi kanan dan sisi kiri atau Kebot Tengawan. Sistem ini dipimpin oleh Jero Kubayan .
Jero Kubayan yang bertugas sebagai pemimpin segala upacara Jero Kebawu tugasnya sama seperti Jero Kubayan menghaturkan persembahyangan hanya sifatnya sebagai pengganti apabila Jero Kubayan berhalangan,
Jero Singgukan sebagai asisten Jero Kubayan dalam jalannya upacara,
Juru Saih Nem (Ke-6 juru).
Selanjutnya 3 di bawahnya ini ada
Jero Penyarikan mengurus ternak-ternak peliharaan,
Juru Pemalungan sebagai juru balungan,
Juru Penguan bertugas membuat sarana upakara di Pura,
Hal yang menarik dari Sistem Ulu Apad ini adalah sistem pergantian jabatan yang ditentukan apabila salah satu pewaris ke-6 Ulu Apad tersebut menikah, Contohnya :apabila putra dari Jero Kubayan menikah maka Jero Kebawu naik tingat menjadi Jero Kubayan, dan putra dari Jero Kubayan sebelumnya yang mengisi posisi paling bawah, begitu juga berlaku untuk putra-putra dari ke-6 Ulu Apad tersebut, jadi dapat dikatakan tugas seorang Jero Kubayan berakhir apabila anaknya sudah menikah.
pada sistem Ulu Apad jika anaknya sudah menikah maka yang orang tua anak tersebut akan pensiun, jika sudah menikah jero yang dibawah naik menjadi Jero Kubayan begitu seterusnya diikuti dengan kedudukan – kedudukan dibawahnya, bisa juga berganti jika salah satunya meninggal,
Sumber: Jero Kebayan Margatengah.



Konsultasi atau pesan banten klik
>> https://wa.me/628976687246

KAMEN COUPLE BALI
https://s.shopee.co.id/20oTn9nBZo

Buku wajib buat yang mau belajar mebanten
https://s.shopee.co.id/9f9k5nJqxN

Buku-buku Agama Hindu
https://s.shopee.co.id/3fwhmSx7kb

Kamen Batik Dan Rayon Bali Lembaran
https://s.shopee.co.id/2B7tzanifK

Bokor Payet Rangrang
https://s.shopee.co.id/LgFofWBmh

Taptasurmi, Salah Satu Neraka Untuk Orang yang S**a Selingkuh Menurut Hindu“Dosa selingkuh”arwah-arwah manusia yang sela...
08/10/2026

Taptasurmi, Salah Satu Neraka Untuk Orang yang S**a Selingkuh Menurut Hindu
“Dosa selingkuh
”
arwah-arwah manusia yang selama hidupnya selalu melaksanakan Adharma akan dikukum; tentunya hukuman itu tercipta dari karma sang arwah sepanjang ia hidup.
Salah satunya adalah Taptasurmi, Neraka yang dikenal cukup menyeramkan. Neraka ini bertujuan untuk menghukum arwah laki-laki dan perempuan yang pada saat hidupnya tidak setia dan berkhianat terhadap pasangan mereka dengan melakukan hubungan badan dengan orang yang bukan merupakan dari pasangan mereka, disebut dg istilah memitre,,
Memitre diambil dari bahasa Bali yang artinya perselingkuhan. Menurut Ida Pedanda Made Gunung (Almarhum) yang di kutip dari salah satu Dharma wacana Beliau. Dalam ajaran Hindu, dosa yang tidak terampuni adalah perbuatan selingkuh. Manusia yang terjerumus dalam perselingkuhan dan sampai akhir hayatnya tidak ada perbaikan moral, dalam reinkarnasi nanti mereka akan menjelma menjadi makhluk rendah. Sulit untuk menjelma menjadi manusia kembali.
"Saya sudah membuka buku segala mantram penglukatan. Dari 125 mantram penglukatan yang ada, tidak satu pun yang dapat digunakan untuk nglukat dosa selingkuh. Maka itu, siapkan mental bagi mereka yang doyan selingkuh untuk menyambut kehid**an mendatang menjadi binatang kelas rendah, seperti lintah misalnya,



Konsultasi atau pesan banten klik
>> https://wa.me/628976687246

KAMEN COUPLE BALI
https://s.shopee.co.id/20oTn9nBZo

Buku wajib buat yang mau belajar mebanten
https://s.shopee.co.id/9f9k5nJqxN

Buku-buku Agama Hindu
https://s.shopee.co.id/3fwhmSx7kb

Kamen Batik Dan Rayon Bali Lembaran
https://s.shopee.co.id/2B7tzanifK

Bokor Payet Rangrang
https://s.shopee.co.id/LgFofWBmh

Address

Jalan Gandapura Gang 1c No 1
Denpasar
80237

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Tetandingan Banten Bali posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Tetandingan Banten Bali:

Shortcuts

Share