Tetandingan Banten Bali

Tetandingan Banten Bali Tetandingan Banten Bali

Ada cara tersendiri guna memilih anjing yang akan dijadikan peliharaan nantinya. Tradisi ini sudah secara turun-temurun ...
02/06/2026

Ada cara tersendiri guna memilih anjing yang akan dijadikan peliharaan nantinya. Tradisi ini sudah secara turun-temurun diwariskan oleh leluhur masyarakat Bali hingga sekarang.
Dalam Lontar Carcan Asu yang disimpan di Gedong Kirtya Singaraja, Orang Bali mengaitkan karakter anjing dengan sifat bawaan yang dimilikinya. Sedikitnya, ada 31 sifat yang didokumentasi
asu gong sabarung, cicing munyine gilik gede (anjing yang memiliki suara besar dan keras), cicing memunyi / ngongkong sambil ngeutut (menggonggong sambaing membuntuti). ageng miakta pangaruh / wibawa, bagus dimiliki oleh orang berpengaruh, karena penuh wibawa
asu ipuser tahun, cicing meuseran di cadikne (punya tanda pusaran di janggutnya). ngamatiang dan ngusir sebangsa jin ataupun makhluk gaib lainnya
asu mebulu barak, lidah bolong (ada lobang) atau berwarna belang (rengreng). pengusir kala dengen, baik menjaga dan menetralisir tempat angker
asu telapakan batisne belus, telapak kakinya lembab (basah) dan bila berjalan di lantai keramik akan berbekas. sebagai pengusir dan membunuh ki calonarang (leak/desti)
asu selem/hitam, ujung telinganya merah. penolak mara baya
asu mebulu halus. penolak sekancan darjana/makhluk jahat
asu berbulu selem (hitam) halus, diduri dimpil (jerijinya dempet jadi satu). penolak sekancan durjana dan durjana menjadi asih
asu warna abu/kelau, mata putih. membunuh sekancan ala baya/makhluk jahat
asu rajeg wesi, asu berbulu putih - selem / poleng (loreng), mata hitam. membunuh pangiwa (gergasi) hancurkan black magic / pepasangan, acep-acepan
asu mebulu putih tulus dengan warna salah satu kuku kanannya hitam. pemiliknya akan selamat, para durjana asih kepada pemiliknya
asu barang memiliki mata linglang, anjing raja, angge kasukertan jagat, pemiliknya dikagumi dan disegani.



Konsultasi atau pesan banten klik
>> https://wa.me/628976687246

KAMEN COUPLE BALI
https://s.shopee.co.id/20oTn9nBZo

Buku wajib buat yang mau belajar mebanten
https://s.shopee.co.id/9f9k5nJqxN

Buku-buku Agama Hindu
https://s.shopee.co.id/3fwhmSx7kb

Kamen Batik Dan Rayon Bali Lembaran
https://s.shopee.co.id/2B7tzanifK

Bokor Payet Rangrang
https://s.shopee.co.id/LgFofWBmh

PENTINGNYA UPACARA MAGEDONG-GEDONGANUpacara Megedong-Gedongan adalah Upacara Kehamilan. Menurut Kanda Pat Rare mengataka...
02/06/2026

PENTINGNYA UPACARA MAGEDONG-GEDONGAN

Upacara Megedong-Gedongan adalah Upacara Kehamilan. Menurut Kanda Pat Rare mengatakan dalam proses kehamilan karena “Kama Jaya” (Sperma dari Ayah) bertemu dengan “Kama Ratih” (O**m dari Ibu) terjadilah pembuahan. Semakin besar terwujudlah Jabang Bayi.

Upacara Megedong-gedongan adalah Upacara yang ditujukan kepada Bayi yang masih berada di dalam Kandungan dan merupakan Upacara pertama dilaksanakan pada saat Bayi berumur 5 bulan Bali (±6 Bulan kalender), karena wujud Bayi sudah dianggap sempurna. pada waktu hamil telah menginjak umur 6 bulan saka maka para Dewata telah lengkap menganugrahi organ tubuh manusia ( lontar Angastyaprana), maka calon ayah dan calon ibu sudah menyiapkan diri untuk melakukan upacara magedong-gedongan

Pelaksanaan Upacara Magedong-gedongan berfungsi sebagai penyucian terhadap Bayi. Disisi lain juga berarti agar kedudukan Bayi dalam Kandungan agar baik kuat & tidak abortus. Secara bathiniah agar Sang Bayi kuat mulai setelah lahir menjadi orang yang berbudi luhur & suputra, berguna bagi keluarga dan masyarakat. Demikian juga dimohonkan keselamatan atas diri si Ibu agar sehat, selamat waktu melahirkan.

Magedong-gedongan berasal dan kata “gedong” yang berarti gua garba. Gua artinya pintu yang dalam atau pintu yang ada di dalam, garba artinya perut. Jadi, gua garba artinya pintu yang dalam, berada pada perut si ibu. Dalam hal ini yang dimaksud kehidupan pertama itu adalah si Bayi. Untuk keselamatan bayi dalam perut ibu inilah dilakukan upacara magedong-gedongan.

Upacara magedong-gedongan ini mempunyai makna; bersyukur dan berterima kasih kehadapan Tuhan atas segala anugrahnya. Dan mendo'akan janin yang lahir nanti selamat dan sempurna, juga merupakan salah satu unsur pendidikan pranatal kepada janin yang masih di dalam kandungan dengan upacara ini secara rohani dia nantinya lahir menjadi anak yang taat beragama.

Di samping itu, tujuan upacara ini adalah agar anak yang akan lahir kelak menjadi orang yang berguna di masyarakat dan dapat memenuhi harapan orang tuanya.
Harapan ini dicirikan dari simbol-simbol upakara yang digunakan,
antara lain banten Byakala, banten Prayascita, banten Pulagembal, banten Sesayut Pamehayu Tuwuh, yang semua itu bermakna untuk memperoleh keselamatan dan kesejahteraan sehingga anak yang lahir nanti menjadi anak yang baik (suputra) sehat jasmani dan rohani.

Bagi semeton yang tidak memungkinkan melakukan upacara yang berkapasitas besar, boleh dilakukan dengan sederhana, misalnya; hanya dengan menghaturkan pejati di sungai/disumur, yang dipuja Dewi Gangga, dan pejati lagi satu kehadapan Bhatara Hyang Guru, di sungai mohon air untuk mandi atau hanya untuk mesirat saja dan banten tataban/ayaban yang sesuai kemampuan.

Ada beberapa masalah yang perlu diluruskan tentang pelaksanaan upacara magedong-gedongan yaitu; ada anggapan bahwa upacara magedong-gedongan hanya dilakukan oleh wangsa tertentu, anggapan seperti ini tidak benar sebab upacara magedong-gedongan adalah upacara manusa yadnya yang pertama dan dilakukan terhadap ibu yang hamilnya sudah berumur. Satu lagi ada anggapan upacara ini hanya dilakukan sekali saat hamil pertama, hamil selanjutnya tidak perlu, anggapan inipun masih keliru, sebab setiap hamil semestinya dilakukan upacara ini.



Konsultasi atau pesan banten klik
>> https://wa.me/628976687246

KAMEN COUPLE BALI
https://s.shopee.co.id/20oTn9nBZo

Buku wajib buat yang mau belajar mebanten
https://s.shopee.co.id/9f9k5nJqxN

Buku-buku Agama Hindu
https://s.shopee.co.id/3fwhmSx7kb

Kamen Batik Dan Rayon Bali Lembaran
https://s.shopee.co.id/2B7tzanifK

Bokor Payet Rangrang
https://s.shopee.co.id/LgFofWBmh

TRADISI MESBES BANGKE DI TAMPAK SIRINGTidak dipungkiri Bali memang memiliki banyak tradisi unik, salah satu yang populer...
01/06/2026

TRADISI MESBES BANGKE DI TAMPAK SIRING
Tidak dipungkiri Bali memang memiliki banyak tradisi unik, salah satu yang populer populer adalah Mesbes Bangke atau mencabik mayat, yang jarang dikenal oleh warga Bali, wisatawan tetap, masih bertahan sampai sekarang, tradisi Mesbes Bangke di banjar Buruan, Tampaksiring, kabupaten Gianyar, Bali.
Tradisi Mesbes Bangke di Tampak Siring Bali ini, tidak dilakukan pada semua jasad manusia yang telah meninggal. Di desa ini dilakukan upacara Ngaben dengan cara ngaben masal yang dilakukan dan dilakukan oleh banyak warga dan juga ada ngaben pribadi yang bisa melakukan pribadi. Dan Tradisi Mesbes Bangke tersebut hanya digelar untuk ngaben pribadi saja. Jadi tidak semua orang mati melalui proses mencabik mayat tersebut.
Lalu pertanyaanya, mengapa tradisi yang juga merupakan proses ritual orang mati ini harus dilangsungkan, meskipun merupakan peninggalan leluhur, tetapi itu adalah tradisi ekstrem yang mungkin tidak dapat dilakukan semua warga. Seperti yang diketahui untuk melakukan upacara tentu saja harus mencari hari baik atau duwase (tanggal) yang cocok untuk melakukan ritual dan mengeluarkan mayat (jasad) orang yang selamat harus beberapa hari di rumah, dan konon, sekarang penduduk asli banjar yang dikeluarkan oleh mayat, karena zaman dulu tidak ada formalin, mereka harus mencari cara agar mayat tidak dikeluarkan bau busuk yang dikeluarkan mayat tersebut.
Karena warga Banjar Buruan tidak kuat menahan bau busuk yang dikeluarkan oleh orang-orang tersebut, maka warga memiliki ide untuk mesbes (mencabik) mayat tersebut, dan pada saat mencabik-cabik (mesbes) tubuh mereka memerlukan pengayaan cuaca, agar dapat mencium bau yang ditimbulkan oleh manusia tersebut. Setelah mayat di cabik-cabik dengan tangan dan giginya, entah dagingnya dimakan atau dicabik, cabikan mayat tersebut di oper-oper seperti sedang melakukan permainan. Menurut warga mereka senang melakukan tradisi tersebut, daging dicabik dan dioper mereka meluapkan kegembiraan sehingga bau tersebut disukai.
Sumber : https://www.balitoursclub.net/tradisi-mesbes-bangke-di...
Gambar : Bagus Saputra
Via :

Tetandingan Banten SambutanTetandingan banten sambutan / nyambutin alit puniki medasar antuk ngiyu susunin aled gde lan ...
01/06/2026

Tetandingan Banten Sambutan

Tetandingan banten sambutan / nyambutin alit puniki medasar antuk ngiyu susunin aled gde lan kain putih, medaging

beras agemel,
nyuh abungkul,
taluh abungkul,
pangi l,
tingkih l,
gegantusan,
pesel-peselan,
basa-basa akaputan,
ituk-ituk majenggot medaging nasi lan rerasmen, 2. bebuat muani, bebuat luh padha kekalih (2), limas majenggot 2, medaging nasi lan rerasmen, ketipat sambutan agencet, tulung sesayut, canang pahyasan, raka woh-wohan jangkep, sampyan pusung 2, sampyan gantung-gantungan 2, sesedep tepung tawar, sampyan sambutan.



Konsultasi atau pesan banten klik
>> https://wa.me/628976687246

KAMEN COUPLE BALI
https://s.shopee.co.id/20oTn9nBZo

Buku wajib buat yang mau belajar mebanten
https://s.shopee.co.id/9f9k5nJqxN

Buku-buku Agama Hindu
https://s.shopee.co.id/3fwhmSx7kb

Kamen Batik Dan Rayon Bali Lembaran
https://s.shopee.co.id/2B7tzanifK

Bokor Payet Rangrang
https://s.shopee.co.id/LgFofWBmh

Menerima Pesanan berbagai macam keperluan upakaraSilahkan yg berminatHubungi melalui WA, telp / sms0897-6687-2460882-920...
31/05/2026

Menerima Pesanan berbagai macam keperluan upakara
Silahkan yg berminat
Hubungi melalui WA, telp / sms
0897-6687-246
0882-9209-6763

Atau kunjungi workshop kami di alamat
Jl gandapura 1c no 1 kertalangu kesiman denpasar timur

Tradisi lokal Bali pun menyuratkan gempa bumi sebagai suatu proses alami. Manusia Bali sangat mengenal mitologi bedawang...
31/05/2026

Tradisi lokal Bali pun menyuratkan gempa bumi sebagai suatu proses alami. Manusia Bali sangat mengenal mitologi bedawangnala yang menjadi dasar Gunung Mahameru. Badawangnala itu diikat oleh dua naga yakni Naga Gombang dan Naga Gini. Dalam teks-teks sastra, naga Gombang itu disebut Ananatabhoga dan naga Gini itu disebut Basuki. Ada lagi naga Taksaka yang berada di angkasa.
“Bila Bedawangnala itu bergerak, Anantabhoga pun bergerak. Gerakan itulah yang disebut lindu atau gempa khususnya gempa tektonik. Bila gerakan bedawangnala demikian hebat, naga Basuki pun ikut bergerak sehingga timbul tsunami,” beber Ida Pedanda Putra Yoga dari Gria Tunjuk, Marga, Tabanan.
Sepintas kisah ini terkesan sebagai dongeng semata. Padahal jika dikupas lebih dalam, paparan itu sangat logis dan ilmiah. Bedawangnala, merupakan simbol dari agni (api) yang ada di dasar bumi yakni magma. Dapat juga disejajarkan sebagai lempeng bumi. Naga Anantaboga merupakan simbol tanah. Ananta berarti tidak habis-habis, sedangkan bhoga berrati makanan. Anantabhoga berarti yang tidak habis-habis memberikan makanan. Yang tidak habis-habis menyediakan makanan bagi manusia tiada lain tanah atau Ibu Pertiwi yang melahirkan berbagai pala gantung, pala wija. Sementara Naga Basuki merupakan simbol air. Basuki berarti keselamatan atau kehidupan. Yang bisa melahirkan kehidupan adalah air. Di mana ada air, maka di sana ada sumber kehidupan.
Para ilmuwan modern sendiri secara sederhana membahasakan terjadinya gempa bumi akibat adanya tumbukan antarlempeng bumi, patahan aktif aktivitas gunung api atau runtuhan batuan. Saat lempeng bumi bertumbukan, tanah pun ikut berguncang. Bila tumbukan terjadi di dasar laut dengan kekuatan di atas 6 SR dan kedalaman yang dangkal, air laut pun naik yang dikenal dengan nama tsunami. Bukankah tidak jauh berbeda dengan gambaran kisah bedawangnala itu?
Kisah soal bedawangnala diikat Anantabhoga dan Basuki ini kemudian divisualisasikan dalam wujud pelinggih padmasana. Selain itu, dalam sejumlah ritual penting di Bali, visualisasi itu pun dapat dilihat dari sarana upacara yang dihaturkan.
“Pelinggih dan upacara yang kita laksanakan itu merupakan miniatur dari lapisan-lapisan bumi serta menggambarkan proses yang terjadi di alam ini,” ujar Ida Pedanda.
Hindu sendiri mengenal bumi mempunyai tujuh lapisan yang dinamai sapta patala. Sapta patala itu yakni patala, atala, witala, nitala, talatala, mahatala dan sutala. Ilmuwan modern pun menyebut bumi ini terdiri dari sejumlah lapisan bumi seperti litosfer, astenosfer serta mesosfer. Lapisan-lapisan ini senantiasa bergerak mencapai titik keseimbangannya. Dalam upaya mencapai titik keseimbangan itu tentu saja ada perubahan, pergeseran atau ada lapisan yang lepas.
Karenanya, budayawan Ketut Sumarta menyatakan dalam kamus alam tidak ada istilah bencana. Tak p**a ada cerita soal alam yang marah. Alam tak pernah marah, malah sangat pemurah. Alam hanya berusaha mencapai keseimbangan sesuai hukum yang dimilikinya.
“Bila alam tidak seimbang, maka alam sendirilah yang akan menyeimbangkannya,” ujar Sumarta.
Karena itulah, tradisi beragama masyarakat bali tidak pernah lepas dari spirit untuk menjaga keseimbangan alam. Manusia sebagai bagian dari alam tidak bisa luput dari hukum keseimbangan alam itu. Untuk itu, jalan satu-satunya yang harus dipilih manusia adalah menyesuaikan diri dengan alam. Alam mestilah diakrabi, disayangi, dirawat sehingga manusia pun turut dirawat dan dijaga. Jika manusia angkuh menentang alam, maka alam akan menagihnya kembali dengan caranya sendiri.
Dalam bahasa Ida Pedanda Putra Yoga, manusia jangan hanya ingat dan bisa mengambil dari alam, tetapi juga bisa memberi. Ida Pedanda lalu mengibaratkan dengan pelinggih yang senantiasa berisi pedagingan. Jika manusia hanya mengambil terus pedagingan itu tanpa memupuk, maka dunia pun jadi guncang



Konsultasi atau pesan banten klik
>> https://wa.me/628976687246

KAMEN COUPLE BALI
https://s.shopee.co.id/20oTn9nBZo

Buku wajib buat yang mau belajar mebanten
https://s.shopee.co.id/9f9k5nJqxN

Buku-buku Agama Hindu
https://s.shopee.co.id/3fwhmSx7kb

Kamen Batik Dan Rayon Bali Lembaran
https://s.shopee.co.id/2B7tzanifK

Bokor Payet Rangrang
https://s.shopee.co.id/LgFofWBmh

Hari Raya Kuningan merupakan bagian dari rangkaianhari raya galungan dalam Hindu, yang jatuh pada 10 hari setelah Galung...
31/05/2026

Hari Raya Kuningan merupakan bagian dari rangkaian
hari raya galungan dalam Hindu, yang jatuh pada 10 hari setelah Galungan, yaitu pada Saniscara (Sabtu) Kliwon Wuku Kuningan.
“kauningan” yang artinya mencapai peningkatan spiritual dengan cara introspeksi agar terhindar dari mara bahaya.

Dikutip dari Bhagawan Dwija makna dari Kuningan adalah mengadakan janji/pemberitahuan/nguningang baik kepada diri sendiri, maupun kepada Ida Sanghyang Parama Kawi, bahwa dalam kehidupan kita akan selalu berusaha memenangkan dharma
(antara lain bhuta dungulan, bhuta galungan dan bhuta amangkurat).

Pada Hari Raya Kuningan banten atau sesajen pada setiap desa belum tentu sama, karena memang banten itu beraneka ragam versinya.
Tapi umumnya pada hari Raya Kuningan menggunakan upakara sesajen yang berisi simbul tamiang dan endongan, di mana makna tamiang memiliki lambang perlindungan dan juga juga melambangkan perputaran roda alam.

- Endongan maknanya adalah perbekalan.
Bekal yang paling utama dalam mengarungi kehidupan adalah ilmu pengetahuan dan bhakti (jnana).
- Sementara senjata yang paling ampuh adalah ketenangan pikiran. Sarana lainnya,
- yakni ter dan sampian gantung.
Ter adalah simbol panah (senjata) karena bentuknya memang menyerupai panah.
- Sementara sampian gantung sebagai simbol penolak bala.

Pada Hari Raya Kuningan juga dibuat nasi kuning sebagai lambang kemakmuran dan dihaturkan sesajen-sesajen sebagai tanda terimakasih dan suksmaning idep kita sebagai manusia menerima anugerah dari Sang Hyang Widhi.

Dapat diambil kesimp**an melalui perayaan Hari Raya Kuningan inilah kita ingatkan untuk selalu ingat menyamabraya, meningkatkan persatuan dan solidaritas sosial, dan umat diharapkan selalu ingat kepada lingkungan sehingga tercipta harmonisasi alam semesta beserta isinya serta tidak lupa akan ingat mengucap syukur kepada Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas segala karunia-Nya.



Konsultasi atau pesan banten klik
>> https://wa.me/628976687246

KAMEN COUPLE BALI
https://s.shopee.co.id/20oTn9nBZo

Buku wajib buat yang mau belajar mebanten
https://s.shopee.co.id/9f9k5nJqxN

Buku-buku Agama Hindu
https://s.shopee.co.id/3fwhmSx7kb

Kamen Batik Dan Rayon Bali Lembaran
https://s.shopee.co.id/2B7tzanifK

Bokor Payet Rangrang
https://s.shopee.co.id/LgFofWBmh

MESAKAPAN KE PASIH (TRADISI BALI)・・・Mesakapan ke pasih bukan diartikan sebagai mesakapan (menikah) di pasih (pantai). Me...
30/05/2026

MESAKAPAN KE PASIH (TRADISI BALI)
・・・
Mesakapan ke pasih bukan diartikan sebagai mesakapan (menikah) di pasih (pantai). Mesakapan ke pasih atau ngangkid atau ada yang menyebut natab di pasih juga bermakna penebusan hutang yang reinkarnasi. Kepercayaan Hindu, orang mengalami reinkarnasi dan yang bereinkarnasi tersebut membawa karmawasana (hasil perbuatan) terdahulu. Upacara ini bertujuan mengambil karmawasana baik orang yang bereinkarnasi tersebut dengan simbol mengambil batu atau ranting di pantai (ngangkid) dan membuang karmawasana buruk orang yang reinkarnasi yang dibawa dalam kehidupan ini dengan simbol melepas perahu atau jukung kecil ke sumber mata air. Dilakukan di pantai atau laut karena upacara terakhir ngaben/memukur nganyut atau melepas kepergian orang yang meninggal terakhir kali dilakukan di laut. Dengan demikian diharapkan ada penyatuan yang harmonis antara badan kasar yang sekarang dengan roh yang bereinkarnasi (mesakapan). Anak yang biasanya penyatuannya tidak harmonis akan lebih sering marah, menentang, atau sulit diatur. Sehingga dengan upacara ini diharapkan terjadi keharmonisan dan keselarasan (dari berbagai sumber). .
Repost
📍: Pantai Padanggalak, Kesiman, Denpasar, Bali



Konsultasi atau pesan banten klik
>> https://wa.me/628976687246

KAMEN COUPLE BALI
https://s.shopee.co.id/20oTn9nBZo

Buku wajib buat yang mau belajar mebanten
https://s.shopee.co.id/9f9k5nJqxN

Buku-buku Agama Hindu
https://s.shopee.co.id/3fwhmSx7kb

Kamen Batik Dan Rayon Bali Lembaran
https://s.shopee.co.id/2B7tzanifK

Bokor Payet Rangrang
https://s.shopee.co.id/LgFofWBmh

RAHINA ANGGARKASIH MEDANGSIADalam Lontar Sundarigama disebutkan Anggara Kasih adalah suatu saat yang tepat untuk mewujud...
30/05/2026

RAHINA ANGGARKASIH MEDANGSIA

Dalam Lontar Sundarigama disebutkan Anggara Kasih adalah suatu saat yang tepat untuk mewujudkan cinta kasih terhadap sang diri (Mangasihi anggasarira). pada hari suci ini dilakukan pembersihan diri dari segala kecemaran, terutama kecemaran yang melekat, caranya melalui jalan perenungan suci.
Rahina Anggara Kasih merupakan hari suci belas kasih dan kebaikan.
berterimakasih kehadapan Sang Hyang Siwa dalam manisfestasinya beliau sebagai Sanghyang Rudra, untuk belas kasih dan kebaikan beliau, serta memohon karunia peleburan segala kekotoran pada alam semesta dan pada semua makhluk sehingga menjadi penuh cahaya suci.



Konsultasi atau pesan banten klik
>> https://wa.me/628976687246

KAMEN COUPLE BALI
https://s.shopee.co.id/20oTn9nBZo

Buku wajib buat yang mau belajar mebanten
https://s.shopee.co.id/9f9k5nJqxN

Buku-buku Agama Hindu
https://s.shopee.co.id/3fwhmSx7kb

Kamen Batik Dan Rayon Bali Lembaran
https://s.shopee.co.id/2B7tzanifK

Bokor Payet Rangrang
https://s.shopee.co.id/LgFofWBmh

Address

Jalan Gandapura Gang 1c No 1
Denpasar
80237

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Tetandingan Banten Bali posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Tetandingan Banten Bali:

Share