Visitgorontalo

Visitgorontalo Jual Oleh Oleh Gorontalo. Call Us 082343803800 Mengenal Gorontalo Lebih Dekat...."Gorontalo Pusaka Dunia - GORONTALO WORLD HERITAGE"

26/01/2025

GOR Nani Wartabone

Selamat Hari Patriotik 23 Januari 1942 ke 83
23/01/2025

Selamat Hari Patriotik 23 Januari 1942 ke 83

Ole Ole Gorontalo..Segera Hadir disini.....
06/12/2021

Ole Ole Gorontalo..Segera Hadir disini.....

Insya Allah Fanpage akan menawarkan Produk Produk Khas Gorontalo dengar harga bersahabat dan  KARAS  ( Komitmen, Amanah ...
06/12/2021

Insya Allah Fanpage akan menawarkan Produk Produk Khas Gorontalo dengar harga bersahabat dan KARAS ( Komitmen, Amanah Resmi, Asyik)

31/08/2020



25/07/2020

*Jalan-jalan Virtual ke Amerika ala Rumah Produktif Indonesia*

Komunitas Rumah Produktif Indonesia (RPI) yang didirikan sejak awal pandemi global melanda Indonesia terus aktif berkegiatan untuk menumbuhkan budaya produktif bagi anggotanya. Salah satunya adalah dengan "jalan-jalan virtual" yang digelar oleh RPI English School pada diskusi yang digelar di zoom meeting (14/6).

"Acara ini kami gelar untuk berjalan-jalan ke luar negeri lewat sharing pengalaman dari mereka yang sudah berkunjung ke berbagai kota di dunia," kata Maghdalena, Direktur RPI English School.

Yanuardi Syukur, Presiden Produktif Indonesia, didaulat sebagai pembicara untuk bercerita pengalamannya berkunjung ke Amerika Serikat dalam program "Religious Freedom and Interfaith Dialogue" pada 2019 yang diadakan oleh Kementerian Luar Negeri AS, World Learning, dan Kedubes AS di Jakarta.

Dalam paparannya, Yanuardi bercerita tentang suasana di tiga kota yang dikunjunginya, yaitu Washington, DC, Pittsburgh, dan New York, lengkap dengan foto-foto yang jarang dilihat orang.

Di sana dia juga bertemu dengan berbagai tokoh Indonesia seperti Imam Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar, Ketua PBNU Marsudi Syuhud, Katib Am PBNU Yahya C. Staquf, dan para tokoh agama seperti Presiden Foundation for Ethnic Understanding Rabbi Marc Shcneier, Presiden Civilizations Exchange & Cooperation Foundation Mohamad Bashar Arafat, dan Presiden ISNA Sayyid M. Syeed.

"Dalam kompleks National Mall ada National Museum of African American History and Culture yang berisi sejarah dan kebudayaan Afro-Amerika yang sangat memperkaya perspektif kita tentang orang Afrika di Amerika," kata Sekretaris dan Peneliti Center for Strategic Policy Studies SKSG UI tersebut.

Relasi antara warga kulit-putih dan hitam di Paman Sam memang tidak seimbang sejak awal, namun perjuangan untuk menciptakan kesamaan itu terus diteriakkan dari waktu ke waktu, lanjut Yanuardi, kandidat Doktor Antropologi FISIP UI.

Dia berharap kasus kematian George Floyd dapat menjadi batu loncatan bagi orang Amerika untuk memosisikan bahwa semua orang itu sama sebagai manusia, sebagaimana frasa terkenal dalam Deklarasi Kemerdekaan Amerika bahwa "Semua manusia diciptakan setara" (All men are created equal) yang dilontarkan salah satu pendiri Amerika, Thomas Jefferson.

Selama di Washington, DC, dia juga berkunjung ke Capitol, Washington Monument, Gedung Putih, Howard University dan juga ke KBRI yang bersebelahan dengan The Fairfax Hotel, tempatnya menginap bersama puluhan peserta se-dunia.

Delegasi Indonesia antara lain Arisman (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta/Lentera Foundation), Nur Khafid (IAIN Surakarta), Wiwin Siti Aminah Rohmawati (UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), dan Fransiska Widyawati (Universitas Katolik Indonesia St. Paulus Ruteng NTT).

Selain dari Indonesia, peserta lainnya berasal dari Burma, India, Malaysia, Sri Lanka, Thailand, dan Amerika Serikat.

IMAAM Center di Maryland. "IMAAM Center adalah komunitas Islam yang eksis berkegiatan tidak hanya bagi orang Indonesia tapi juga bagi orang Amerika dan bermitra dengan berbagai lembaga," kata Yanuardi Syukur yang ketika itu bertemu Presiden IMAAM Center Bagus Adiyanto, Imam Fahmi Zubir, dan senior overseas Indonesia di sana.

Yanuardi, penulis 80-an buku tersebut juga berbagi pengalaman ketika mengikuti berbagai program diskusi lintasagama di Pittsburgh, berkunjung ke masjid, gereja, sinagog, kuil, dan bertemu Walikota Pittsburgh Bill Peduto.

Tak lupa, dia juga bercerita pengalamannya saat jalan kaki selama satu jam ke kantor PBB setelah penutupan program semata agar bisa salat berjema'ah bersama Imam Shamsi Ali. Selama di New York, dia juga berkunjung ke ground zero 9/11 (bekas menara kembar WTC), Wallstreet, dan Broadway.

Jalan-jalan virtual yang dipandu oleh pengusaha muslimah Sofie Ghufron ini dihadiri oleh puluhan peserta dari berbagai daerah dan latar belakang di Indonesia seperti Maghdalena, M. Ibrahim Hamdani, Faisal Pakaya, Taufik Uieks, Widodo, Widya Rizki Pratiwi, Abd Majid, Ariani, Sahidin Sura, Sisri Handayani, Dhiah Ashri, Nuria, dan MS. Wijaya.

Irfan Syuhada, qori' dan seorang pegiat sepeda di Depok berharap agar diskusi seperti ini dapat terus diselenggarakan agar memperkaya wawasan peserta.

Rutriana Meilisa yang siapa Anna, seorang alumni program di China merasa beruntung dapat join dalam diskusi virtual di masa pandemi ini.

"Terima kasih sudah diajak jalan-jalan ke Amerika. Sharingnya, keren!" tutup Eka Purnamawati, penulis "Berjalan di Atas Kenangan".

Sesi terakhir diskusi diisi dengan tips untuk memperlancar bahasa Inggris, meningkatkan percaya diri, dan bagaimana mengelola kekurangan menjadi kelebihan yang pada gilirannya berguna untuk mengharumkan nama Indonesia di dunia global lewat peminatan kita masing-masing.*

22/07/2020




Tak lengkap rasanya jika berkunjung ke Gorontalo tanpa mencicipi kuliner khasnya ini, yak Ilabulo kudapan khas Gorontalo yang terbuat dari sagu ini sangat ni...

https://www.facebook.com/104708574614685/posts/104736824611860/
21/07/2020

https://www.facebook.com/104708574614685/posts/104736824611860/

*UPIYA KARANJI*

Upiya karanji merupakan salah satu produk kerajinan tradisional yang sangat populer di daerah Gorontalo. Usaha ini adalah usaha kemahiran kerajinan tradisional dalam bentuk anyaman topi. Anyaman topi ini dibuat dalam bentuk songkok atau kopiah yang sekarang ini banyak digunakan sehari – hari oleh masyarakat terutama saat melaksanakan ibadah shalat di masjid atau untuk melindungi kepala dari sengatan matahari dan debu. Dewasa ini upiya karanji telah digunakan sebagai identitas oleh pegawai ASN di Provinsi Gorontalo. Bahan pembuatan upiya karanji merupakan bahan baku produk yang bisa diperoleh dari lingkungan para pembuat, sehingga tidak sulit untuk mengadakannya. Sekarang ini upiya karanji dengan kreativitas para pembuat telah dilengkapi dengan asesories sehingga lebih menarik. Upiya Karanji atau Songkok Khas Gorontalo ini terbuat dari anyaman sejenis rotan yang dalam bahasa Gorontalo dikenal dengan Pohon Mintu. Anyaman Pohon Mintu bahannya sangat mendukung karena agak lunak dan mudah untuk dianyam. Setelah dibuat dalam bentuk songkok rasanya agak sejuk dan nyaman dipakai apalagi ditunjang oleh sirkulasi udara yang dirancang sebagai model songkok. Dewasa ini upiya karanji telah dijadikan identitas khas orang Gorontalo sehingga sangat mudah dikenali saat bepergian terutama ketika digunakan saat beribadah ke tanah suci. Pembuatan upiya karanji membutuhkan ketrampilan yang professional dan ketekunan dalam mengerjakannya karena sangat rumit membuat anyamannya apalagi jika ditambah dengan tulisan identitas pemesan di kopiah ini sehingga terkesan memiliki keunikan dan nilai artistik yang tinggi.
Upiya karanji dari tahun ke tahun mengalami perkembangan terutama bentuk, model dan desainnya. Faktor ini disebabkan perkembangan jaman dan tingginya minat pasar menyebabkan banyak pengusaha yang menanamkan modal untuk pengembangan usaha ini. Sehingga hal ini menyebabkan timbulnya persaingan antar pengusaha produk sejenis. Kondisi ini memunculkan inovasi dan kreativitas dalam rancangan sehingga mampu bersaing dalam peningkatan produksi, model atau jenis, bentuk, termasuk pesan/simbol identitas yang ditorehkan pada produk upiya karanji. Dengan demikian upiya karanji merupakan produk yang memilik nilai dan keunikan dalam karakteristik sehingga diyakini memiliki prospek pasar yang cukup menjanjikan. Dengan bertahannya usaha kerajinan upiya karanji mengindikasikan kesejahteraan bagi kehidupan sosial ekonomi para perajinnya.

Adapun proses pemilihan bahan dan pembuatan produk upiya karanji dijelaskan sebagai berikut. Pada awal pertama untuk memulai tahapan pekerjaan pembuatan upiya karanjib ahan yang di pilih oleh perajin pada umumnya yakni, (1) Bahan baku mintu sudah tergolong berkualitas seperti dengan mengamati pohannya yaitu harus pohon yang sudah terlihat tua, dan (2) Bahan sudah yang sudah diidentifikasi kemudian diselektif terlebih dahulu, setelah itu dijemur di panas matahari selama dua jam jika segera diperlukan segera pembuatannya. Jika tidak terburu-buru maka cukup hanya diangin-anginkan saja hingga kering selama dua hari. Setelah itu maka bahan pembuat upiya karanji diangap telah siap.
Selanjutnya dalam proses pembuatan upiya karanji dibutuhkan bahan-bahan sederhana seperti pisau, lempengan logam (penutup kaleng yang sudah dilubangi) dan meteran untuk mengukur nomor kopiah sesuai keinginan pemesan.
Proses produksi sebuah upiya karanji dilakukan berbagai tahapan pekerjaan yakni setelah terpilih helai mintu yang akan digunakan maka usaha selanjutnya mengecilkan mintu sampai ukuran halus sesuai dibutuhkan untuk anyaman sebuah upiya. Pada tahap ini seorang perajin akan secara selektif memilih bahan apakah memilih warna polos atau perlu disisipi mintu berwarna karena setiap perajin memiliki selera berbeda dalam hal variasi dan bentuk upiya. Hal ini membutuhkan pekerjaan professional. Bagi perajin yang sudah profesional, tidaklah terlihat menemui kesulitan dalam setiap menghasilkan sebuah produk, atau mengayam dan memilih model sebuah upiya begitu sangat gampang dan mudah. Modal ketrampilan dan kemahiran menjadi modal dari seorang perajin apalagi telah sekian puluh tahun bergelut dengan kerajinan tradisional ini.

Address

Gorontalo

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Visitgorontalo posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Visitgorontalo:

Share