15/12/2025
Di tepian Sungai Serayu, sore perlahan menunduk.
Langit memudar dari biru ke keemasan pucat, seolah matahari pamit dengan cara paling lembut. Cahaya terakhirnya menyentuh permukaan air—jernih, tenang, mengalir tanpa tergesa—membawa cerita yang tak pernah selesai.
Perahu-perahu kecil terdiam di pinggir, seperti penjaga kenangan. Kayunya basah oleh usia dan perjalanan, namun setia menunggu arus yang sama, hari demi hari. Air mengelus lambungnya perlahan, menciptakan riak-riak kecil yang berkilau, seakan sungai sedang berbisik pada senja.
Awan gelap menggumpal di kejauhan, bukan sebagai ancaman, melainkan penyeimbang cahaya. Di antara terang dan kelam, Serayu tetap mengalir—jujur, sabar, dan indah. Angin bertiup semilir, membawa aroma tanah basah dan dedaunan, menenangkan hati yang singgah sejenak.