05/01/2026
Kerendahan Hati dan Kezuhudan Said bin Amir al-Jumahi sebagai Gubernur
Said bin Amir al-Jumahi (atau Saeed ibn Amir al-Jumahi) adalah sahabat Nabi Muhammad ﷺ yang dikenal sebagai salah satu gubernur (walikota) di wilayah Hims (Syria) pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Ia digambarkan dalam sumber sejarah Islam sebagai figur yang sangat sederhana, rendah hati, dan zuhud (menjauhi dunia), yang menjadikannya teladan kepemimpinan Islam. Kisahnya sering diriwayatkan dalam kitab seperti *Tarikh al-Tabari* dan *Al-Bidayah wa al-Nihayah*, menekankan nilai-nilai keadilan, ketelitian, dan pengabdian tanpa pamrih. Berikut ringkasan singkat berdasarkan riwayat sejarah.
Kerendahan Hati sebagai Gubernur
Said bin Amir al-Jumahi dikenal karena kerendahan hatinya yang luar biasa, meskipun ia memegang jabatan kekuasaan tinggi. Saat Umar bin Khattab mengangkatnya sebagai gubernur Hims, Said awalnya menolak karena merasa tidak layak, khawatir akan fitnah (uji coba) dari kekuasaan. Namun, setelah dipaksa, ia menerima dengan syarat tidak memanfaatkan posisinya untuk kekayaan pribadi. Ia hidup sederhana, bahkan menjadi salah satu orang miskin di wilayahnya, memakai satu pakaian usang dan tinggal di rumah sederhana tanpa kemewahan.
Saat Umar berkunjung ke Sham dan memeriksa daftar orang miskin, Umar terkejut melihat nama Said di antara mereka, menunjukkan bahwa ia tidak menyimpan apa pun untuk dirinya sendiri. Ini mencerminkan prinsip Islam tentang kepemimpinan yang berbasis keadilan, di mana ia memperlakukan rakyat tanpa diskriminasi, fokus pada tugas seperti pengumpulan zakat dan distribusi bantuan. Kerendahan hatinya juga terlihat saat ia menangis dan bertaubat setelah menyaksikan penyaliban sahabat Khubayb bin Adiy, menunjukkan empati dan kesadaran spiritualnya.
Kezuhudan sebagai Gubernur yang Humble
Kezuhudan Said bin Amir al-Jumahi adalah inti dari kepemimpinannya yang humble (rendah hati). Ia menjauhi dunia dan harta, memilih hidup miskin demi keimanan, meskipun sebagai gubernur yang bertanggung jawab atas wilayah strategis seperti Hims. Saat diangkat, ia menolak gratifikasi dari al-mal (harta negara) dan hanya menerima gaji dasar, menyatakan bahwa itu sudah cukup untuk kebutuhannya. Ia hidup dengan kesederhanaan ekstrem, bahkan sering memakai pakaian yang robek dan tinggal di lingkungan miskin, sehingga rakyatnya menganggapnya sebagai salah satu dari mereka. Ini mencerminkan zuhud Islam, di mana ia mengutamakan akhirat daripada dunia, seperti dalam riwayat di mana ia menangis melihat penderitaan orang lain dan bertaubat. Kezuhudannya membuatnya menjadi pemimpin yang adil dan tulus, tanpa korupsi, dan ia mati syahid saat memimpin pasukan Islam. Kisah ini mengajarkan bahwa kekuasaan sejati datang dari ketakwaan, bukan kekayaan.
Kisah Said bin Amir al-Jumahi menginspirasi pemimpin modern untuk menghindari ambisi pribadi dan fokus pada pelayanan masyarakat. Jika Anda ingin detail lebih lanjut tentang konteks sejarah atau perbandingan dengan tokoh lain, saya bisa jelaskan lebih dalam.
Foto : https://blog.nabitu.id/said-bin-amir-al-jumahi-sang-gubernur-yang-sederhana/