29/08/2019
" Duit Dedemit "
Panas, macet, dan asap kendaraan sudah menjadi santapan sehari hari warga ibu kota. Orang orang sibuk kesana kemari menjalani aktivitasnya. mencari uang atau hanya sekedar untuk dapatkan sesuap nasi. Tak pernah sedetikpun jalanan sepi, pagi, siang, sore, malam, jakarta tak pernah mati.
Hari minggu ini, meski jam kerja libur, namun orang orang begitu ramai memadati jalan, mau jalan jalan kali ? atau belanja, atau sekedar cuci mata.
Terlihat seorang pemuda berkulit coklat sedang duduk disamping WC umum sebuah pasar tradisional. Tubuhnya nampak letih menggenggam sebuah map besar berisikan surat surat lamaran kerja, Arya sudah hampir tiga bulan di Jakarta untuk mencari pekerjaan, ijasah smpnya tak laku kemana mana. Dibuka dompetnya yang tipis, tersisa beberapa lembar kertas catatan dan KTP yang memajang wajahnya. Persediaan uangnya sudah habis. Perutnya tak kuat menahan lapar. Namun apa daya ia tak mampu membeli sebiji beraspun.
Ia hanya mampu memandangi jongko nasi bungkus dihadapan matanya, jongko itu sangat ramai pembeli, mungkin karena rasanya yang enak. Arya sangat tergoda. Sesaat terlintas pikiran jahat di otaknya, aman enggak ya kalo ngambil satu ajah nasi bungkus itu, terus langsung kabur, pikirannya berputar mencari ide. Dia melihat kiri kanan, menerawang jalan untuk lari nanti. Ia menunggu waktu yang pas , dimana para pembeli sedang berdesak desakan. Dengan gugup ia mulai menghampiri jongko pedagang nasi bungkus tersebut. Hap, tangannya lumayan lihai mengambil barang curian, meski ia baru seorang pemula. Sayang sekali tingkah lakunya tersebut kelihatan oleh lelaki tua yang sedang mencuci piring dan gelas di sebelah meja jongko pedagang nasi bungkus itu.
“ MALING...MALING...MALING...!!! ” teriak lelaki tua, sambil mengarahkan telunjuk ke arah Arya.
Otomatis orang orang melihat ke arah telunjuk lelaki tua itu.Karena kaget dan takut, Arya langsung lari hendak menyelamatkan diri, namun baru beberapa langkah dari sana, badannya jatuh menabrak tong sampah, saat itu juga Ia menjadi serbuan massa, pukulan dan hantaman tak bisa lagi dihindari, wajahnya yang sudah bonyok, hanya menunduk pasrah, nasi bungkus curiannya hancur berantakan tak berbentuk lagi. Untung saat itu datang Pak Haji Kasja, menghampiri massa.
“ Stop ! Stop ! Berhenti, Sudah, jangan main hakim sendiri “ Pak Haji kasja merangkul tubuh Arya.
“ Dia maling, Pak haji “ ucap beberapa warga.
“ Mana barang buktinya ? Siapa saksinya ? “ tantang Pak Haji Kasja.
“ Dia maling nasi bungkus Mpo Hindun, pak Haji. Noh saksinya Pak Wawan “ seseorang mencoba menjelaskan.
“ Berapa bungkus Ia mencuri nasinya ? sampai Ia harus babak belur seperti ini “ tanya Pak haji Kasja.
“ Satu bungkus Pak haji, tapi kalo dibiarin nanti malah keenakan, tutumaneun kata orang sunda mah, Pak haji “
“ Iya iya ,,, tapi enggak harus dihajar kaya gini, harus di adili dulu, bagaimana kalo memang ia terpaksa mencuri nasi bungkus itu karena ia kelaparan, malah kita yang salah, membiarkan saudara kita ini kelaparan, sedangkan kita makan makan dengan enak “ ceramah Pak Haji Kasja.
“ Tapi Pak Haji,,,” orang orang malah protes.
“ Sudah sudah, biar orang ini saya urus, Lain kali kalau ada kejadian kaya gini lagi, jangan main hakim sendiri, tangkap aja dulu lalu di adili di pihak yang berwajib “
“ Iya iya pak haji, nasihatin Dia jangan sampe ia mengulangi perbuatannya lagi “ Pesan para warga.
Arya yang sejak tadi menjadi kambing conge, dirangkul Pak Haji Kasja menuju rumahnya.
Kini Arya terbaring di sebuah kamar milik Pak Haji Kasja. Badannya lemas, merasakan sakitnya dipukuli massa. wajahnya pucat, seperti abu. Seorang gadis cantik duduk disampingnya. Matanya memandang kiri kanan, masih merasa heran.
“ Bagaimana anak muda, sudah agak baikan ? “ Pak Haji Kasja menghampirinya.
“ Lumayan, Pak. Sedikit agak linu ajah “ sesekali Arya merintih.
“ Pasti Abang lapar, makan saja dulu, Bang. Nasinya sudah saya siapin tuh di meja makan, jalan sendiri kuat bukan ? “
“ Kuat, Non. Sakitnya Cuma di wajah ama daerah punggung, kok “
“ Entar juga sembuh, sekarang mendingan makan dulu ajah, supaya ada tenaga, o iya kenalin nama saya Kasja, dan ini anak saya Cacha, dia masih kuliah D3 “
“ Nama Saya Arya, Pak. Mekasih banyak ya Pak, gara gara saya , Bapak jadi repot “
“ Sudah kewajiban kita untuk saling tolong menolong, Nak Arya “
Meja makan besar lengkap dengan berbagai macam lauk pauk yang menggiurkan umat, Arya pun makan dengan lahapnya, jarang jarang Ia bisa makan hidangan seperti ini.
Sinar matahari mulai redup, awan cerah mulai memerah, habis siang datanglah malam.
Setelah selesai sholat maghrib, Pak Haji Kasja mengajak Arya ngobrol di tengah rumah.
“ Kamu berasal dari mana ? “
“ Saya dari daerah Ciranjang, Cianjur. Pak “
“ Ooo... dari Jawa Barat, toh “
“ Iya Pak “
“ Kamu disini kerja apa ?, kok tadi siang pake nyolong nasi bungkus segala ? “
“ Itu dia, Pak. Saya sudah tiga bulan di jakarta, tapi belum dapat pekerjaan, ngelamar kesana kemari, malahan uang bekal yang habis, makanya tadi siang saya ngambil nasi bungkus, karena saya sudah tidak punya uang lagi “
“ Ooo... gitu ceritanya, zaman sekarang memang susah cari pekerjaan, sekalinya ada pekerjaan, gajinya kecil, kurang mencukupi kebutuhan. Terus rencana kamu apa sekarang ? ”
“ Tak tau Pak. Harus kemana lagi saya mencari pekerjaan, mencari uang “
“ Kalau kamu mau, kamu bisa bantu bantu ngurus peternakan ayam saya, noh di belakang rumah, beberapa ratus anak ayam yang masih berusia satu minggu “
“ Waaahhh, kebetulan sekali, sambil saya membalas jasa Bapak “
“ Sssttt, tak usahlah kamu bilang begitu, kamu bekerja aja yang bener, Kamu akan Saya gaji sebulan sekali sehabis panen “
“ Saya tidak memperhitungkan gaji, sudah dapat makan dan penginapan gratispun alhamdulillah, Pak “
“ Iya iya, kamu belajar aja dulu, cara cara ngurusin ayam ayamnya, kalo kamu sudah bisa, bahkan pandai, Kamu akan Saya gaji dengan layak “ janji Pak Haji.
Tak terasa sudah hampir satu bulan Arya makan dan nginep gratis di rumahnya Pak Haji Kasja. Hari harinya sangat sibuk dengan mengurus peternakan ayam, meski pekerjaan ini membuat tangannya kotor ditambah aroma tidak sedap yang selalu ia cium setiap hari, tapi Arya sangat senang melakukannya, itung itung membalas budi kebaikan Pak Haji Kasja. Sesekali kalau Cacha lagi libur, Cacha membantu pekerjaan Arya, sambil ngobrol ngaler ngidul, mengakrabkan diri.
Arya memakai segala fasilitas mewah di rumah majikannya ini, uang jajanpun dikasih Cuma Cuma oleh Pak haji Kasja, belum gaji yang akan diterimanya setiap bulan, Pak haji Kasja benar benar orang super kaya yang baik. Padahal usahanya Cuma punya peternakan ayam berukuran sedang. Hanya cukup untuk menampung beberapa ratus ekor ayam. Menurut perhitungan Arya, pendapatan hasil panen tidak begitu besar dibanding modal dan biaya perawatan. Belum lagi kebutuhan rumah yang sangat boros, dari mana Pak Kasja bisa mendapatkan harta melimpah seperti sekarang ini, mungkin tabungan atau timbunan hartanya yang banyak, pikir Arya.
Arya semakin merasa heran dengan kekayaan Pak Haji Kasja, apalagi didalam rumahnya ada sebuah kamar rahasia, yang siapapun dilarang memasukinya. Sepengetahuan Arya, Pak Haji Kasja pun hanya masuk kamar rahasia tersebut setiap malam jum’at kliwon. Jadi agak misterius dan sedikit angker. Seperti malam jum’at sekarang ini nih, kayaknya pak Haji Kasja sedang melakukan ritualnya di kamar rahasia. Meski rumah ini milik seorang Haji, namun tak ada hiasan islami sedikitpun seperti kaligrafi atau gambar Ka’bah. Kegiatan ibadahpun sangat kurang, hampir tak pernah terlihat, membuat suasana dingin menyeramkan. Cacha, gadis cantiknya sedang nginep di rumah temannya. Arya mengurung diri dikamar, melepas lelah setelah seharian bekerja, iapun tertidur lelap.
Tik tek tik tek tik tek . . . . .
Jam mulai bergerak menuju angka dua belas. Tiba tiba muncul asap mengepul dari dalam guci di kamar Arya. Semakin lama semakin menggumpal, Aryapun terbangun dan merasa kaget . . .
Apalagi setelah gumpalan asap itu menjadi sosok manusia gemuk yang berkulit hitam, Arya semakin kaget.
“ A R Y A A A . . . , A R Y A A A . . . . .” Makhluk itu memanggil namanya.
“ Kam_kam_, kammu_, si_si_, si_apa ? Mulut Arya terbata bata.
“ AKU YANG SELAMA INI MEMBANTU KASJA MENDAPATKAN HARTA KEKAYAANNYA “ Jawab makhluk menyeramkan tersebut.
“ Lalu kenapa kamu mendatangiku, kenapa Kamu mengganggu Ku ? “
“ AKU HARUS MENGAMBIL NYAWA SEORANG MANUSIA DISETIAP MALAM BULAN PURNAMA, UNTUK MENEBUS SETIAP HARTA YANG AKU BERIKAN, DAN KASJA MENJADIKANMU TUMBAL UNTUKKU, HA HA HA HA . . . . “ Jelasnya.
“ A P P P A A A . . . ??? jadi selama ini, Aku hanya dijadikan umpan untuk mendapatkan harta haram ini, sungguh biadab, tak Ku sangka, kebaikannya selama ini hanyalah kedok belaka “ Arya sangat kecewa.
“ Y A B E G I T U L AH , K A S J A “
“ Jadi sekarang kamu mau membunuhku ? “
“ IYA, SEHARUSNYA BEGITU, TAPI AKU TAK BISA MEMBUNUH MU, ARYA “
“ Lho kenapa ? “
“ KARENA KAMU DILAHIRKAN PADA MALAM JUM’AT KLIWON, SAMA SEPERTI HALNYA AKU LAHIR, JIKA AKU MEMBUNUHMU MAKA AKUPUN AKAN MATI “
“ Ooo . . . , berarti Aku bisa selamat dari acara persembahan ini ? “
“ YA, KAMU BOLEH PERGI KEMANA KAMU MAU, KARENA KAMU TIDAK AKAN PERNAH BISA DIJADIKAN TUMBAL, SEBAGAI BEKAL PERJALANANMU, AKU BERIKAN UANG SERATUS RIBU INI, UANG YANG AKAN MEMBUAT KAMU MENJADI KAYA RAYA TANPA HARUS MEMBERIKAN TUMBAL ATAU SESEMBAHAN “
“ Jadi, dengan uang ini, aku bisa kaya tanpa syarat apapun “ Arya tak percaya begitu saja.
“ SYARATNYA CUMA SATU, UANG INI ENGGAK BOLEH DI BAWA KENCING ATAU BUANG AIR BESAR, JIKA ITU TERJADI MAKA KAMU AKAN CELAKA HA HA HA HA . . . “
SSSsssssttttttttt......
Dalam sekejap saja makhluk tersebut kembali menjadi asap dan masuk ke dalam guci.
Arya duduk termangu, sambil menatap uang seratus ribu ditangannya. Ia memastikan uang itu asli atau palsu, entahlah, asli apa palsu, tapi yang pasti semuanya mirip uang asli.
Udara malam semakin dingin, melaju menuju pagi, Arya jadi tak betah lagi tinggal di rumah Pak Haji Kasja. Waktu sudah hampir shubuh, Arya memberanikan diri untuk kabur dari rumah yang akan menyeret nyawanya ini.
Keluar dari gerbang, ia langsung naik taxi yang kebetulan lewat. Tujuannya menuju terminal Kampung Rambutan, Arya membayar ongkos taxinya dengan uang pemberian dari Dedemit semalam, karena memang cuma uang itu yang tersisa. Ongkosnya cuman lima puluh ribu, sang sopir pun memberikan kembalian lima puluh ribu. Perutnya mulai lapar, ia pun memesan bubur ayam spesial di pojok terminal. Arya membuka dompetnya, hendak membayar bubur, betapa kagetnya , Arya melihat uang seratus ribu dari dedemit itu, ada lagi di dompetnya. Arya pun coba coba membayar bubur dengan uang seratus ribu itu. Tanpa pikir panjang, Si Tukang bubur ayam menyerahkan kembalian pada Arya, sembilan puluh ribu.
Langkahnya menuju tempat parkir mobil angkot dan bus. Matahari mulai menampakan dirinya. Sinar hangat mulai terasa. Tujuannya adalah cianjur, ia ingin istirahat dulu di kampung halamannya. Bus yang dinaikinya masih kosong, namun beberapa saat saja, satu persatu para penumpang mulai memenuhi kursi. Musik berdendang dari arah depan belakang, rupanya sang sopir menekan tombol play pada VCD merk China di busnya. Rodapun berputar ke arah depan, bus melaju pelan pelan, keluar terminal, jalanan nampak ramai, para pedagang para pengamen bercampur jadi satu, Arya menikmati pemandangan perjalanan p**angnya, sang kondektur mulai memungut ongkos dari arah belakang, dengan suara uang recehan yang digoyangkan tangannya. Arya melihat dompetnya, betapa herannya ia ketika melihat uang seratus ribu pemberian Dedemit itu balik lagi ke dompetnya, setiap dibelanjakan, uangnya malah semakin banyak, bakalan cepet kaya kalo begini caranya, pikirnya dalam hati. Ia pun membayar ongkos bus pake uang dedemit itu. Sang kondektur memberi kembalian tujuh puluh ribu rupiah, dalam waktu hampir satu jam uang dari tas kondektur itu pindah lagi secara ghaib ke dompetnya Arya, kini bus sampai di daerah bogor. Sopir bus memas**an bus nya ke area peristirahatan, sekalian chek kondisi mesin dan kontrol jumlah penumpang.
Arya tak tahan pengen kencing, turun dari mobil ia langsung menuju toilet umum. Lega rasanya, cairan kotornya begitu deras membanjiri toilet. Tiga gayung air membanjiri kloset, membersihkan warna kotor dan bau tak sedap, Arya merapihkan celananya kembali.
“ Krek “ Arya membuka pintu toilet, keluar menuju parkiran bus. Namun Ia kaget mendengar teriakan penjaga toilet,
“ BABI NGEPET ! BABI NGEPET ! ADA BABI NGEPET . . . !!! “ sambil menunjuk ke arah Arya.
Serentak orang orang disekitar sana pun melihat ke arah Arya, beberapa orang melempari Arya dengan botol minuman, bahkan ada yang membawa balok kayu, sapu , dan tongkat pel hendak memukul Arya.
Arya sendiri heran apa yang terjadi pada dirinya, badannya berubah menjadi hitam, berbulu halus, telinganya memanjang, hidungnya besar, layaknya seekor babi raksasa. Ada apa ini, apa yang salah dengannya. Arya tak bisa lari kemana mana, orang orang telah mengepungnya, lemparan dan pukulan mengarah ke wajah maupun badannya.
Rasa sakitnya lebih parah dibandingkan waktu kemarin dipukulin gara gara nyolong nasi bungkus, kerumunan warga semakin banyak, penasaran ingin tau apa yang terjadi. Salah seorang lelaki tua berpakain putih menghampirinya, tubuh Arya terkapar di area terminal.
“ Berhenti, berhenti, dia sudah tidak berdaya lagi “
“ Dia musti dibunuh Pak Haji, merugikan masyarakat “
“ Tenang, tenang, biar saya liat dulu, Dia juga manusia seperti kita, siapa tahu kita bisa menyadarkannya agar bisa kembali ke jalan Allah “ Pak Haji menghampiri Arya.
“ Alaaaaahhhh..., kelamaan Pak Haji, mendingan kita siksa ajah “
“ Kita tidak boleh main hakim sendiri “ Pak Haji mencoba menenangkan warga. Mulutnya nampak berkomat kamit, membaca ayat ayat suci Al Qur’an. Tangannya mengarah ke badan Arya, seperti metal detector. terasa ada suhu panas ketika tangannya mendekati saku celana Arya. Pak Haji mengambil dompet Arya, dilihatnya selembar uang seratus ribu, yang terasa berat ketika digenggam tangannya,
Rupanya ini yang menyebabkan Arya berubah wujud, Pak Haji nampak membaca ayat ayat suci Al Qur’an lagi, sambil merobek robek uang kertas milik Arya, uang pemberian dari Dedemit. Sedikit demi sedikit tubuh Arya kembali normal, kembali ke wujud Arya sebagai manusia biasa. Semua warga yang menyaksikan kejadian tersebut hanya bengong, sungguh aneh bin ajaib.
“ Ampuuun..., Saya bukan babi ngepet, Saya Cuma punya duit dari Dedemit itu, yang katanya bisa bikin Saya kaya raya, sumpah Saya bukan Babi ngepet “ Arya minta ampun dengan keadaannya yang setengah sadar.
“ Baiklah Saudara Saudara, biar Saya yang akan mengurus pemuda ini, sekarang silahkan lanjutkan aktivitasnya masing masing “ Pak Haji merangkul Arya, untuk dibawa ke rumahnya.
Beberapa jam kemudian Arya terbangun dari tidurnya, Ia masih merasakan sakit di wajah dan badannya, bekas pukulan orang orang tadi. Arya memaksakan diri berjalan keluar kamar, dilihatnya Pak Haji yang telah menolongnya tadi sedang ngobrol dengan seorang gadis cantik.
“ Pak, rupanya Dia udah sadar “ kata gadis cantik itu.
“ Jangan dulu banyak bergerak, Anak muda, Kamu masih sakit “ Larang Pak Haji.
“ Tapi saya mau p**ang Pak Haji, Saya harus p**ang “ pinta Arya.
“ Iyah, iyah, tapi badan Kamu masih sakit, Kamu belum kuat untuk berjalan, mendingan Kamu duduk ajah sini “
“ Iyah Bang. Istirahat aja dulu disini, Kami bukan orang jahat kok “ kata gadis cantik itu.
“ Dia anak saya, namanya Aini, kalau nama saya, Muhammad Safi’i “ jelas Pak Haji safi’i.
“ Pak haji Safi’i ? “ Arya menanyakan kembali nama Pak Haji Safi’i. Arya sedikit trauma dengan gelar Haji.
“ Ya, Orang orang memanggil saya begitu, Pak Haji Safi’i, tapi bagi saya panggilan Haji itu enggak penting, Haji itu adalah rukun islam, sama halnya dengan sholat, orang yang selalu melakukan sholat setiap hari, enggak disebut Pak Sholat, kenapa berhaji cuma satu kali aja, harus disebut Pak Haji, iya to ? “ ungkap pak haji Safi’i.
“ Mungkin itu cara masyarakat menghormati orang yang telah menyempurnakan rukun islam, Pak Haji “ jawab Arya.
“ Ya, apapun itu lah, masyarakat s**a salah kaprah. Nama kamu sendiri siapa Anak muda ? “ tanya Pak haji Safi’i.
Akhirnya Arya memperkenalkan diri dan menceritakan kejadian yang menimpa dirinya, mulai dari Dia mencari kerja di jakarta, nyolong nasi bungkus, digebukin warga, ditolong sama Haji Kasja yang ternyata akan menumbalkannya, sampai Ia mendapatkan duit dedemit yang membuat dirinya berubah wujud menjadi Babi ngepet, gara gara Duit Dedemitnya dibawa ke toilet.
“ Oooo jadi gara gara itu, Kamu harus kena pukul warga untuk kedua kali nya “ Pak Haji Safi’i sekarang mengerti.
“ Kasihan sekali Bang Arya ini “
“ Iya, Neng , Nasib orang yang enggak makan bangku sekolahan, bukannya jadi orang kaya, malahan kaya gini “ Arya merendahkan diri.
“ Kalau mau kaya raya Kamu harus bekerja, dan berdo’a, tak ada lagi cara lain selain itu, cara cara instant bersekutu dengan setan adalah perbuatan dosa besar, itu sama artinya dengan tidak percaya pada kekuasaan Allah “ Sedikit ceramah dari Pak Haji.
“ Kalau kamu mau, kamu bisa bantu saya kerja di kebun pisang sama kebun talas di belakang rumah, Saya dan Aini mengolahnya menjadi makanan ringan sebagai oleh oleh dari Bogor “ lanjutnya.
“ Tenang, Bang. enggak bakalan jadi tumbal “ goda Aini.
Arya terdiam sejenak, seperti memikirkan sesuatu.
“ Bismillah ajah “Saran Pak Haji, memberi semangat.
“ Iya, Pak Haji. Saya bersedia bekerja membantu Pak Haji, BISMILLAHIRROHMAANIRROHIIM . . . “ Arya seperti mendapatkan semangat baru dalam hidupnya.
Semenjak itulah Arya mengabdikan dirinya, bekerja di rumah Pak Haji Safi’i, malam harinya Ia dibekali ilmu agama, mengaji bersama sama di mushola. Kedekatannya dengan Neng Aini yang cantik dan Sholehah adalah BONUS STAGE perjalanan hidupnya yang khusnul khotimah. Pengalamannya selama ini, Ia jadikan sebagai guru terbaik yang telah mengajarkannya arti kehidupan.
Haji Kasja Kemana ?
Inilah hasil dari bersekutu dengan Dedemit, karena tidak bisa memberikan tumbal, maka Dedemit itu sering mendatangi haji Kasja, sampai akhirnya Haji kasja sakit akibat pikirannya yang tidak tenang. Sedikit demi sedikit hartanya mulai habis. semua orangpun akhirnya mengetahui kebus**annya, bahwa selama ini Ia mencari harta dengan cara menyembah Dedemit. Jika sampai tiga purnama belum juga mendapatkan tumbal untuk Dedemit, maka nyawa Haji Kasja sendirilah yang harus menebus atas segala harta haram pemberian Dedemit itu, ujung ujungnya Haji Kasja tidak bisa menikmati kenikmatan dunia, dan di akhirat nanti akan mendapat siksa. NAUDZUBILLAHIMINDALIK...
Cerpen Karya ; Mamat Hikmat
RT 07 RW 03 Blok Cibitung
Desa Sindangpano
Kecamatan Rajagaluh
Kabupaten Majalengka
Jawa Barat