04/01/2026
Chapter 0 — Prolog
Suara pertikaian menggema di ujung gua.
Logam beradu, napas terengah, dan teriakan yang dipenuhi ambisi bercampur menjadi satu. Mereka saling menyerang bukan karena dendam, melainkan karena satu pusaka yang tergeletak di tengah gua.
Sebuah keris pusaka.
Pertikaian itu berakhir ketika Aji Lesmana berdiri sebagai pemenang. Dengan tangan berlumuran darah, ia meraih keris tersebut dan pergi tanpa menoleh ke belakang.
Ia tidak menyadari satu hal.
Di balik bayangan gua, Raka belum sepenuhnya meninggal.
Tubuhnya tergeletak, napasnya nyaris tak terasa. Dunia di sekelilingnya mulai menjauh, seolah ditarik ke dalam kabut tebal.
Lalu terdengar bisikan.
“Hei, bocah… bangun.”
“Raihlah aku.”
Suara itu tidak keras, tapi jelas. Bukan berasal dari telinga, melainkan langsung dari dalam kepala.
“Aku akan memberimu kekuatan.”
Dengan sisa kesadaran, Raka merangkak mengikuti suara itu. Tangannya menyentuh sesuatu yang dingin di tanah gua.
Sebuah cincin dengan permata hitam.
Bisikan itu kembali terdengar, kali ini lebih dekat.
“Teteskan darahmu.”
“Kenakan aku.”
Tanpa benar-benar memahami, Raka menuruti dorongan itu. Saat darahnya menyentuh cincin, tubuhnya bergetar hebat. Dadanya terasa seperti diremas dari dalam.
Kesadarannya runtuh.
Namun ia tidak mati.
Raka terbangun di sebuah ruang gelap—bukan gua, bukan dunia nyata. Di hadapannya berdiri Haya.
Di belakang Haya, menjulang sosok hitam besar. Tubuhnya seperti bayangan pekat, dengan mata merah menyala yang menatap langsung ke arah Raka.
Tanpa suara.
Tanpa gerakan.
Sosok itu seolah sedang mengamatinya.
Dan di sanalah Raka menyadari:
sesuatu telah memilihnya.