09/07/2026
Ada satu hal yang ga pernah gagal bikin aku mikir soal keadilan sosial tiap kali makan tengkleng, kok bisa ya tulang dan jeroan yang dulu dianggap βsampahβ sekarang harganya bisa lebih mahal dari sate dagingnya sendiri
Ceritanya bermula dari zaman nelangsa, tepatnya masa penjajahan Jepang. Konon katanya bagan pangan waktu itu menipis, rakyat kecil harus mengolah apa pun supaya perut tetap terisi, bonggol pisang aja bisa jadi makanan
Kambing jadi barang mewah, tapi bukan dagingnya yang jatuh ke mulut rakyat jelata. Ningrat ga s**a tulang sama jeroan, nah itu! Kemudian diolah dengan bumbu seadanya dari pasar tradisional biar ga mubazir
Nama tengkleng sendiri punya cerita yang khas Jawa banget. Piring miskin waktu itu terbuat dari gebreng, semacam seng tipis. Begitu tulang kambing ditaruh di atasnya, bunyinya kleng kleng kleng, nyaring khas logam, dan dari situ nama tengkleng menempel sampai sekarang
Cara makannya juga bukan buat orang jaim. Wajib hands-on, kata orang sini, dibrakoti atau dikrikiti, definisinya menggigiti daging yg nempel tulang sampai tak bersisa. Koyok kucing ae.
Sensasi menemukan sedikit daging, otot, atau sumsum di sela tulang itu yang bikin orang rela belepotan tangannya demi semangkuk tengkleng. Kalo dapet dagingnya agak banyak, rasanya kaya menang taruhan!!
Sekarang tengkleng udah naik kasta. Dulu cuma dijajakan simbok di pinggir pasar, wadah pincuk daun pisang, disajikan ala carte tanpa nasi, sekarang jadi menu yang diburu wisatawan dengan harga yang taklagi murah
Ironis kan, makanan yang lahir dari kemiskinan berubah jadi simbol kemewahan kuliner, tapi begitulah cara sejarah bekerja, apa yang dulu dianggap limbah bisa jadi warisan